Wall Street Melemah Saat Minyak dan Imbal Hasil Treasury Meningkat
Pusatkabar.com – Perdagangan saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Senin, 28 September 2026, setelah pasar menghadapi kombinasi tekanan dari naiknya harga energi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ketidakjelasan arah pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati.
Dow Jones Industrial Average berakhir turun 347,11 poin atau 0,67% ke posisi 51.481,51. Indeks S&P 500 kehilangan 59,72 poin, setara 0,77%, menjadi 7.683,69. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 248,34 poin atau 0,92% dan menutup sesi di 26.820,38.
Tekanan pada S&P 500 menjadi penurunan harian paling dalam sejak 20 Agustus 2026. Pelemahan tiga indeks utama tersebut menggambarkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan energi dapat memperpanjang tekanan inflasi dan mempersulit arah kebijakan moneter AS.
Minyak Kembali Menjadi Perhatian Pasar
Harga minyak sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran. Pergerakan harga kemudian lebih terkendali ketika muncul harapan Qatar akan kembali memfasilitasi dialog antara kedua pihak untuk membuka peluang kesepakatan.
Meski lonjakan awal mereda, minyak kembali menguat dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya sempat turun dari puncaknya pada awal September. Pasar energi menilai peluang meredanya gangguan pasokan masih belum pasti selama pembicaraan diplomatik belum menghasilkan kemajuan yang jelas.
Kenaikan harga minyak dan diesel menjadi perhatian penting karena dapat mendorong biaya energi lebih tinggi. Bagi perekonomian AS, kondisi ini berpotensi menambah tekanan harga di tengah inflasi yang masih diawasi ketat oleh Federal Reserve.
“Iran mendorong harga minyak, harga minyak mendorong inflasi, dan inflasi mendorong suku bunga,” kata Jack Ablin, chief investment strategist sekaligus founding partner Cresset Capital Management di Chicago.
Ablin menilai kenaikan imbal hasil obligasi membuat instrumen berbunga terlihat lebih menarik dibandingkan saham. Saat yield meningkat, valuasi saham dapat menghadapi tekanan tambahan karena investor memiliki pilihan aset pendapatan tetap dengan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.
Ekspektasi Suku Bunga Menguat
Imbal hasil Treasury naik seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi yang dipicu energi dapat bertahan lebih lama. Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin ditempuh jika tekanan harga tidak berkurang.
The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan ini. Pasar kini memusatkan perhatian pada pertemuan kebijakan berikutnya di Oktober, terutama setelah peluang kenaikan minimal 25 basis poin meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada rapat Oktober berada di 70,3%. Angka itu lebih tinggi dari 57,6% sepekan sebelumnya dan 17,7% sebulan lalu. Pergeseran ekspektasi tersebut membantu menjelaskan mengapa pasar saham bergerak lebih defensif.
Gubernur The Fed Lisa Cook menyampaikan bahwa tekanan inflasi diperkirakan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Faktor yang disorot meliputi permintaan yang terkait kecerdasan buatan atau AI serta harga minyak yang meningkat. Namun, Cook tidak menyatakan secara langsung bahwa bank sentral harus kembali menaikkan suku bunga.
Boeing dan Tesla Menekan, Nvidia Menguat
Pergerakan saham individual juga memengaruhi arah indeks. Boeing menjadi salah satu penekan utama setelah sahamnya jatuh 6,9%. Federal Aviation Administration atau FAA menyatakan sertifikasi Boeing 737 MAX 10 akan ditunda sampai persoalan perangkat lunak yang baru terungkap dapat diselesaikan.
Di sektor kendaraan listrik, Tesla turun 3,9% setelah J.P. Morgan memangkas target harga saham perusahaan tersebut. Penyesuaian itu dikaitkan dengan pengiriman kendaraan yang dinilai lemah pada kuartal III-2026.
Berbeda arah, Nvidia naik 1,6%. Produsen semikonduktor itu mengumumkan otorisasi pembelian kembali saham senilai US$150 miliar. Program tersebut menjadi buyback terbesar dalam sejarah perusahaan dan memberi dukungan bagi saham Nvidia ketika sektor teknologi secara umum bergerak melemah.
Negosiasi AS-Iran dan Data Ekonomi Menjadi Katalis
Perkembangan komunikasi antara Washington dan Teheran tetap menjadi salah satu penggerak utama pasar energi. Iran mengumumkan proposal perdamaian dalam sidang Majelis Umum PBB pekan lalu serta menyampaikan bahwa usulan tersebut telah diteruskan kepada AS melalui Qatar.
Trump menyatakan pada Sabtu bahwa proposal itu telah ditolak. Akan tetapi, dalam pernyataannya kepada Axios pada Minggu, ia mengatakan negosiator AS akan melanjutkan pembicaraan dengan Iran pada pekan ini. Situasi tersebut membuat investor harus mencermati setiap perkembangan diplomatik karena hasilnya dapat memengaruhi prospek pasokan energi dan laju inflasi.
Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada serangkaian data ekonomi AS, termasuk indikator inflasi dan pasar tenaga kerja. Laporan ketenagakerjaan pemerintah AS yang dijadwalkan terbit pada Jumat diperkirakan menjadi perhatian utama, sebab data tersebut dapat memberi gambaran baru mengenai kekuatan ekonomi serta kemungkinan langkah The Fed pada pertemuan mendatang.
Bagi investor, kombinasi harga minyak, yield Treasury, data tenaga kerja, dan arah negosiasi AS-Iran akan menentukan sentimen jangka pendek. Selama risiko inflasi belum mereda dan suku bunga masih berpotensi naik, volatilitas di pasar saham AS dapat tetap tinggi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Wall Street Ditutuo Turun Senin 28 9?
Wall Street Ditutuo Turun Senin 28 9 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Wall Street Ditutuo Turun Senin 28 9 matter?
Wall Street Ditutuo Turun Senin 28 9 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

