Skip to content
Fresh Desk
Juni 22, 2026
Keuangan

Key Strategy: Waspada, Likuiditas yang Ketat di Semester II-2026 Berpotensi Menghambat Laju Kredit

Elizabeth Moore 3 mins baca

Key Strategy: Perbankan Waspadai Likuiditas Ketat di Semester II-2026 Mengapa Likuiditas Menjadi Fokus Utama di Semester II-2026?

Key Strategy: Waspada, Likuiditas yang Ketat di Semester II-2026 Berpotensi Menghambat Laju Kredit

Key Strategy: Perbankan Waspadai Likuiditas Ketat di Semester II-2026

Mengapa Likuiditas Menjadi Fokus Utama di Semester II-2026?

Key Strategy – Dalam tahun 2026, likuiditas yang ketat menjadi tantangan signifikan bagi sektor perbankan. Meskipun kinerja industri perbankan nasional secara umum dianggap masih stabil, Key Strategy menyoroti bahwa pertumbuhan kredit bisa terhambat akibat kenaikan suku bunga dan kondisi dana yang semakin terbatas. Hal ini diperkirakan akan memengaruhi daya beli masyarakat serta kemampuan institusi keuangan dalam menyalurkan pinjaman.

Perbanas, salah satu lembaga riset perbankan, memprediksi bahwa semester II-2026 akan menjadi periode kritis untuk mengamati dinamika likuiditas. Kenaikan BI Rate (Bank Indonesia Rate) sebesar 100 bps sejak awal tahun menciptakan tekanan pada biaya pembiayaan. Akibatnya, kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi mengurangi akses bank terhadap dana, yang secara langsung memengaruhi laju kredit.

Aviliani, Ketua Bidang Riset dan Pengkajian Perbanas, menegaskan bahwa meskipun kualitas aset perbankan tetap terjaga dengan NPL (Non Performing Loan) berada di level sehat, tantangan likuiditas akan menjadi faktor utama yang mengarah pada perlambatan pertumbuhan kredit. Menurutnya, BI mencatatkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11,51% tahunan pada bulan Mei 2026, namun kecenderungan ini bisa berubah jika kondisi likuiditas tetap memburuk.

Analisis Risiko Likuiditas dan Dampak pada Kredit

Key Strategy menyoroti bahwa likuiditas yang ketat tidak hanya mengganggu kinerja perbankan, tetapi juga memengaruhi stabilitas perekonomian secara keseluruhan. Keterbatasan dana membuat perbankan lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama ke sektor-sektor yang dianggap rentan. Hal ini berdampak pada bisnis UKM dan sektor produktif, yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha.

‘Dilihat dari segi kredit, kondisi masih dalam batas baik. NPL pun tetap terjaga,’ kata Aviliani, dikutip pada hari Minggu (21/6/2026).

Aviliani menjelaskan bahwa rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) cenderung meningkat akibat kenaikan suku bunga. LDR yang tinggi menunjukkan bahwa bank meminjam dana lebih besar dari deposit yang diterima, sehingga meningkatkan risiko ketidakseimbangan likuiditas. Menurutnya, jika LDR tidak dikelola dengan baik, perbankan bisa menghadapi tekanan likuiditas yang menghambat kemampuan menyalurkan kredit di paruh kedua tahun ini.

Kenaikan suku bunga, terutama BI Rate yang mencapai 5,75% per Mei 2026, memberikan dampak yang signifikan terhadap permintaan kredit. Aviliani menjelaskan bahwa secara historis, pertumbuhan kredit cenderung melambat saat suku bunga naik, karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal bagi usaha dan masyarakat. Ini berarti, Key Strategy perlu mengantisipasi pengurangan laju kredit seiring dengan kenaikan suku bunga yang terus berlanjut.

‘Kalau bunga naik lagi, biasanya pertumbuhan kredit bakal mengalami penurunan,’ katanya.

Key Strategy mengingatkan bahwa perbankan harus beradaptasi dengan situasi likuiditas yang ketat. Dengan mengoptimalkan pengelolaan dana, seperti meningkatkan akses ke pasar modal atau memperluas sumber pendanaan, bank bisa menjaga stabilitas kredit. Selain itu, kemajuan teknologi dan digitalisasi keuangan diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemberian kredit, meskipun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan suku bunga.

Sejumlah industri keuangan menilai bahwa likuiditas yang ketat juga memengaruhi kinerja sektor riil. Pemulihan ekonomi yang lambat mengakibatkan tingkat penggunaan kredit yang tidak seimbang, sehingga berpotensi menciptakan ketergantungan pada kredit yang tidak berkelanjutan. Key Strategy menyarankan bahwa kebijakan fiskal dan moneter perlu lebih terpadu untuk mengatasi tantangan ini.

Ikut berdiskusi