Skip to content
Fresh Desk
Agustus 5, 2026
Keuangan

Latest Program: Kredit Produktif Jadi Andalan Perbankan di Tengah Perlambatan Kredit Konsumsi

Matthew Smith - pusatkabar.com 3 mins baca

Kredit Produktif Jadi Andalan Perbankan di Tengah Perlambatan Kredit Konsumsi Latest Program - Dalam rangka menghadapi perlambatan kredit konsumsi, perbankan

Latest Program: Kredit Produktif Jadi Andalan Perbankan di Tengah Perlambatan Kredit Konsumsi

Kredit Produktif Jadi Andalan Perbankan di Tengah Perlambatan Kredit Konsumsi

Latest Program – Dalam rangka menghadapi perlambatan kredit konsumsi, perbankan nasional semakin mengandalkan ‘Latest Program’ sebagai strategi utama untuk memperkuat pertumbuhan sektor produktif. KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan Indonesia saat ini fokus pada penyaluran kredit produktif sebagai penggerak utama, terutama karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Kredit konsumsi, yang selama ini menjadi penopang utama industri perbankan, tercatat melambat dalam beberapa bulan terakhir. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan kredit konsumsi per Mei 2026 hanya mencapai 5,8% secara tahunan, dibandingkan 6% pada bulan sebelumnya. Perlambatan ini didorong oleh tekanan inflasi dan perubahan perilaku konsumen yang lebih hati-hati dalam pengeluaran.

Kredit Produktif: Sumber Daya Utama Pertumbuhan Ekonomi

Di sisi lain, kredit produktif tumbuh lebih pesat, mencerminkan adanya peningkatan kebutuhan pembiayaan dari sektor korporasi. Pertumbuhan kredit modal kerja (KMK) mencapai 7,9% YoY menjadi Rp3.702,5 triliun pada Mei 2026, di mana permintaan pembiayaan di sektor pertambangan dan industri pengolahan menjadi faktor penentu.

“Perlambatan kredit konsumsi menunjukkan ketidakseimbangan dalam struktur permintaan keuangan masyarakat. Namun, dengan ‘Latest Program’ yang diterapkan, perbankan berhasil memfokuskan penyaluran ke sektor-sektor yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Trioksa Siahaan, Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), kepada Kontan.co.id.

Menurut Trioksa, tren ini menunjukkan kembali keperkasaan sektor produktif, terutama karena tingkat risiko yang lebih terukur dan nilai pembiayaan yang lebih besar dibandingkan kredit konsumsi. Ini menjadi peluang untuk memperkuat perekonomian Indonesia di tengah tantangan global.

KB Bank: Menerapkan ‘Latest Program’ untuk Pemulihan Ekonomi

KB Bank menjadi contoh perbankan yang aktif menerapkan ‘Latest Program’ untuk mendukung sektor produktif. Presiden Direktur KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyatakan perseroan berupaya meningkatkan proporsi kredit produktif sebagai andalan utama, mengingat kondisi pasar konsumsi yang belum optimal.

“Dalam ‘Latest Program’ yang kami jalankan, penyaluran kredit produktif tidak hanya fokus pada volume tetapi juga pada kualitas aset. Kami ingin menjamin stabilitas ekosistem keuangan sekaligus mendorong ekspansi usaha yang berkelanjutan,” ujar Kunardy.

Kebijakan ini selaras dengan strategi pemerintah yang mendorong investasi di sektor ekonomi riil. Kunardy menegaskan bahwa KB Bank terus memantau kondisi pasar, terutama dalam menjaga rasio kredit macet di bawah 3% untuk menunjang pertumbuhan ekonomi.

“Permintaan kredit produktif mencerminkan kepercayaan dunia usaha terhadap potensi pasar. Dengan ‘Latest Program’ yang terus diperluas, kami yakin kontribusi sektor produktif akan terus meningkat,” tambahnya.

Citibank: Optimis Tren Kredit Produktif Berkelanjutan

Optimisme terhadap kredit produktif juga disampaikan Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia). CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, menilai pembiayaan sektor produktif masih memiliki potensi tumbuh dua digit sepanjang 2026, sebagai bagian dari ‘Latest Program’ yang dirancang untuk mempercepat peningkatan produktivitas ekonomi.

“Dengan ‘Latest Program’ yang adaptif terhadap kebutuhan korporasi, kami melihat bahwa kredit produktif akan menjadi tulang punggung industri perbankan hingga akhir tahun ini,” ungkap Batara.

Menurut Trioksa, kredit produktif diperkirakan tumbuh 9% hingga 12% sepanjang 2026, sejalan dengan target pertumbuhan kredit industri yang mencapai 7-10%. Ini menjadi jawaban atas perlambatan kredit konsumsi yang diharapkan berlangsung sementara.

“Pemulihan ekspansi usaha di sektor produktif akan terus berlangsung, meskipun kita harus tetap siap menghadapi volatilitas pasar yang dipengaruhi oleh dinamika global,” tambah Trioksa.

Para ahli menekankan bahwa ‘Latest Program’ harus didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan. Penyaluran kredit produktif yang terarah juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada sektor konsumsi yang rentan terhadap perubahan kebijakan dan kondisi ekonomi makro.

Ikut berdiskusi