Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Keuangan

Solving Problems: Sejumlah Bank Masih Catat Rasio Kredit Bermasalah Tinggi

Sandra Brown - pusatkabar.com 4 mins baca

Beberapa Bank Terus Laporkan Tingkat Kredit Bermasalah yang Tinggi Solving Problems - JAKARTA, KONTAN.CO.ID.

Solving Problems: Sejumlah Bank Masih Catat Rasio Kredit Bermasalah Tinggi

Beberapa Bank Terus Laporkan Tingkat Kredit Bermasalah yang Tinggi

Solving Problems – JAKARTA, KONTAN.CO.ID. Meskipun kualitas kredit sektor perbankan secara umum menunjukkan stabilitas, beberapa bank masih menghadapi tantangan dalam mengendalikan rasio kredit bermasalah (NPL). Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Selasa (7/7/2026) menyebutkan bahwa rasio NPL industri perbankan di Mei 2026 mencapai 2,17%, sama seperti bulan sebelumnya, April 2026. Angka ini menunjukkan bahwa Solving Problems dalam manajemen kredit belum sepenuhnya teratasi, terutama mengingat tekanan ekonomi yang semakin menguat dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, perbankan tetap berupaya untuk mengoptimalkan strategi kredit agar dapat meningkatkan kualitas aset secara bertahap.

Kinerja NPL Net Tidak Berubah

Secara konsisten, rasio NPL net juga tetap berada di 0,84% sepanjang Mei 2026, yang menunjukkan peningkatan yang tidak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini mencerminkan bahwa perbankan masih mampu menjaga kualitas portofolio kredit mereka, meskipun ada tekanan dari berbagai faktor ekonomi. Solving Problems dalam memantau risiko kredit tetap menjadi fokus utama, terutama di tengah ketidakpastian pasar yang meningkat. Selain itu, perbankan juga berusaha menyeimbangkan antara pertumbuhan kredit dengan pengendalian risiko yang lebih ketat.

Salah satu indikator yang penting dalam mengukur kesehatan kredit adalah NPL net, yang menggambarkan tingkat kredit bermasalah setelah dikurangi dengan cadangan kredit. Angka ini tidak hanya memberikan gambaran tentang risiko yang dihadapi, tetapi juga membantu pengambil kebijakan mengevaluasi efektivitas pengelolaan aset. Dengan Solving Problems yang terus dilakukan, beberapa bank berhasil memperbaiki kondisi NPL net mereka, meski masih ada tantangan dalam menurunkan angka ini secara signifikan.

Bank-Bank Spesifik Mengalami Tantangan

Di tingkat individu, sejumlah bank masih mencatatkan NPL yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri. Sebagai contoh, pada Maret 2026, PT Bank Amar menunjukkan NPL gross sebesar 8,14%, turun dari 10,89% pada tahun sebelumnya. Meski ada peningkatan, angka ini menunjukkan bahwa bank tersebut tetap berupaya untuk mengurangi risiko kredit secara progresif. Solving Problems dalam manajemen risiko terutama diperlukan di sektor yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi, seperti sektor UMKM yang masih menjadi sumber utama pembiayaan.

Di sisi lain, PT KB Bank mencatat kenaikan rasio NPL dari 9,10% di Maret 2025 menjadi 9,93%. Sementara itu, Bank of India Indonesia (BSWD) berhasil menurunkan NPL-nya dari 7,09% menjadi 5,4%. Beberapa bank lain seperti Bank Raya (4,81%), Bank Banten (4,50%), dan Bank Sahabat Sampoerna (4,51%) juga terus menunjukkan kinerja yang baik dalam mengendalikan rasio kredit bermasalah. Solving Problems ini menggambarkan upaya perbankan untuk memperkuat struktur kredit dan menyesuaikan pola pembiayaan dengan kondisi pasar yang berubah.

Strategi untuk Mengendalikan Kualitas Aset

Untuk menjaga kualitas aset dan menekan NPL hingga akhir tahun, Bank INA berencana memperkuat dana murah melalui rekening tabungan saat ini (CASA), menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) ke segmen menengah, serta mengembangkan produk dengan risiko yang lebih rendah. Strategi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam Solving Problems kualitas kredit perbankan. Selain itu, bank juga menggandeng mitra strategis untuk memperluas jaringan pembiayaan dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan kredit.

“NPL merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bisnis perbankan. Perlambatan ekonomi saat ini diperkirakan akan memengaruhi kualitas aset,” jelas Henry Koenaifi, Direktur Utama PT Bank INA, kepada Kontan pada Kamis (9/7).

Kondisi ini, menurut Henry, membutuhkan evaluasi internal untuk menentukan inisiatif yang efektif dalam meningkatkan performa dan mempertahankan kualitas aset. Ia menambahkan, belum ada sektor kredit tertentu yang dianggap paling rentan terhadap penurunan kualitas aset, meski potensi tekanan bisa muncul di berbagai bidang. Solving Problems di sektor perbankan juga melibatkan penggunaan teknologi dan pendekatan digital untuk meminimalkan risiko serta mempercepat proses penagihan.

Perbedaan Penilaian pada NPL Gross dan Net

Dalam pengelolaan kredit, perbedaan antara NPL gross dan NPL net menjadi penting. SVP Finance Amar Bank, David Wirawan, menilai NPL gross bukan satu-satunya parameter untuk mengukur kualitas aset di bank digital segmen mikro tanpa agunan. NPL net Amar Bank yang turun menjadi 0,86% lebih representatif, karena mempertimbangkan risiko yang lebih besar dari sektor UMKM. Solving Problems dalam menyusun strategi kredit perlu melibatkan analisis yang lebih mendalam terhadap kedua indikator ini.

“NPL gross tidak sepenuhnya mencerminkan realitas kualitas aset bank digital, terutama mengingat risiko sektor UMKM yang lebih tinggi,” katanya.

Direktur Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra, mengungkapkan bahwa peningkatan NPL diakibatkan oleh tingginya paparan kredit ke sektor UMKM, mencapai 58%. Namun, ia menekankan bahwa rasio NPL net yang berada di 2,7% tidak menghambat ekspansi kredit baru. Solving Problems dalam mengelola risiko kredit di sektor UMKM membutuhkan kolaborasi antara bank dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang lebih stabil. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, perbankan diharapkan dapat menurunkan rasio NPL secara berkelanjutan.

Di sisi lain, Presiden Direktur KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut tingginya NPL masih dipengaruhi oleh perbaikan kualitas portofolio kredit, termasuk warisan lama. Bank tersebut tetap menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga profil risiko yang konservatif dan transparan. Solving Problems dalam mengurangi NPL juga melibatkan penguatan proses verifikasi dan pemantauan kredit, serta penggunaan data historis untuk memprediksi risiko di masa depan. Dengan demikian, perbankan diharapkan dapat menemukan solusi yang lebih efektif untuk mengatasi masalah kredit bermasalah secara jangka panjang.

Ikut berdiskusi