Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Bulog Serap 3,2 Juta Ton Beras – Stok Tembus Rekor 5,4 Juta Ton

Elizabeth Moore - pusatkabar.com 3 mins baca

Bulog Capai Serapan Beras 3,2 Juta Ton, Stok Rekor 5,4 Juta Ton Bulog Serap 3 2 Juta Ton Beras - Perum Bulog telah mencapai target serapan beras sebesar 3,2

Bulog Serap 3,2 Juta Ton Beras – Stok Tembus Rekor 5,4 Juta Ton

Bulog Capai Serapan Beras 3,2 Juta Ton, Stok Rekor 5,4 Juta Ton

Bulog Serap 3 2 Juta Ton Beras – Perum Bulog telah mencapai target serapan beras sebesar 3,2 juta ton hingga 29 Juni 2026, dengan mencapai 80% dari rencana penyerapan 4 juta ton yang ditetapkan pemerintah. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa pencapaian ini mengindikasikan penyerapan beras nasional telah mencapai angka yang signifikan, bahkan melebihi target awal. Konversi ke gabah, jumlah serapan mencapai lebih dari 6 juta ton, yang berdampak langsung pada ketersediaan bahan pangan di pasar dalam negeri.

“Serapan beras hingga 29 Juni 2026 sudah mencapai 80% dari target 4 juta ton, sehingga melebihi 3,2 juta ton. Jika berasnya 3,2 juta ton, maka gabahnya lebih dari 6 juta ton,” ujar Rizal di Gudang Perum Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Senin (29/6/2026).

Pencapaian ini tidak hanya menjadi bukti kemajuan dalam program swasembada pangan, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan Indonesia dalam mengelola ketersediaan bahan pokok. Dengan stok beras yang mencapai rekor 5,4 juta ton per akhir Juni 2026, Bulog siap memastikan pasokan beras tetap stabil, terutama menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-81 pada Agustus 2026.

Strategi Pemerintah untuk Menjaga Ketersediaan Beras

Tujuan utama serapan beras nasional 2026, yaitu 4 juta ton, adalah bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan beras yang cukup untuk kebutuhan masyarakat sepanjang tahun. Target ini didukung oleh anggaran yang ditingkatkan hingga Rp 39 triliun, untuk memperkuat kinerja Bulog dalam mengelola distribusi dan penyimpanan beras. Rizal menekankan bahwa keberhasilan serapan berdampak langsung pada ketersediaan stok CBP, yang merupakan cadangan pangan pemerintah untuk mengantisipasi fluktuasi harga dan kebutuhan masyarakat.

“Stok Bulog hingga hari ini mencapai 5,4 juta ton. Ini adalah rekor tertinggi sepanjang masa, baik untuk stok maupun serapan,” katanya.

Dalam wawancara terpisah, Rizal menjelaskan bahwa keberhasilan ini didorong oleh kerja sama yang lebih intensif antara Bulog, para petani, dan distributor beras. “Kerja sama yang solid dan peningkatan luas tanam akan memastikan produksi tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” tambahnya. Penyerapan beras yang tinggi juga menjadi bukti bahwa permintaan pasar untuk beras nasional tetap stabil, sekaligus menunjukkan kesiapan Bulog dalam menghadapi kebutuhan pangan di masa depan.

Kenaikan Luas Tanam Padi dan Dampaknya pada Produksi

Kenaikan luas tanam padi sekitar 500 ribu hektare pada Oktober hingga Desember 2025 menjadi faktor penentu dalam pencapaian target serapan beras. Dengan produksi gabah yang meningkat, pemerintah yakin bahwa target serapan 4 juta ton dapat tercapai, dan akan menjadi fondasi untuk mempertahankan ketersediaan beras di tengah dinamika pasar global. Perum Bulog, sebagai lembaga penyimpanan pangan nasional, berperan penting dalam memastikan keberlanjutan program ini.

“Kerja sama yang solid dan peningkatan luas tanam akan memastikan produksi tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” tambah Amran.

Kebijakan serapan beras nasional tidak hanya menyangkut kuantitas, tetapi juga kualitas. Bulog terus berupaya memastikan beras yang diserap memiliki standar kualitas yang baik untuk disalurkan ke masyarakat. Pencapaian serapan 3,2 juta ton juga menjadi indikator bahwa industri pertanian Indonesia mampu memenuhi target swasembada pangan, yang merupakan prioritas nasional. Dengan stok CBP mencapai 5,4 juta ton, pemerintah yakin bahwa kebutuhan beras masyarakat dapat terpenuhi hingga akhir tahun ini.

Menjelang 17 Agustus 2026, Rizal memprediksi bahwa penyerapan beras akan terus meningkat, sehingga menghasilkan stok yang lebih besar. “Menjelang 17 Agustus 2026, kami yakin akan ada peningkatan signifikan dalam stok dan serapan,” pungkasnya. Pencapaian ini juga menjadi penanda keberhasilan program pemerintah dalam mengelola bahan pokok secara efisien, sekaligus menunjukkan respons positif dari produsen maupun konsumen terhadap kebijakan serapan beras nasional.

Ikut berdiskusi