Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Ekonom Danamon Proyeksikan Inflasi Melandai Seiring Pelemahan Aktivitas Manufaktur

Karen Brown - pusatkabar.com 2 mins baca

i Melandai Ekonom Danamon Proyeksikan Inflasi Melandai Seiring - Ekonom dari Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, memprediksi bahwa inflasi di Indonesia

Ekonom Danamon Proyeksikan Inflasi Melandai Seiring Pelemahan Aktivitas Manufaktur

Ekonom Danamon Proyeksikan Inflasi Melandai

Ekonom Danamon Proyeksikan Inflasi Melandai Seiring – Ekonom dari Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, memprediksi bahwa inflasi di Indonesia akan mulai melambat di kuartal kedua 2026. Proyeksi ini didasarkan pada perlambatan aktivitas sektor manufaktur serta penurunan kebutuhan konsumen. Dalam sebuah wawancara terkini, Hosianna menyebutkan bahwa tekanan inflasi yang sempat tinggi di semester pertama tahun ini akan berkurang secara signifikan.

Faktor Utama Penurunan Inflasi

Secara tahunan, inflasi Indonesia mencapai 3,34% pada bulan Juni 2026, sedangkan inflasi bulanan tercatat 0,44%. Meskipun angka ini masih berada di level yang cukup tinggi, Hosianna menjelaskan bahwa tingkat inflasi tidak akan terus meningkat. Meningkatnya biaya produksi dan kebutuhan energi memang masih menjadi tekanan utama, tetapi kurangnya permintaan dari sektor manufaktur mulai mengurangi dampaknya.

BPS mencatatkan kenaikan harga komoditas pangan yang terkait langsung dengan permintaan konsumen, seperti bawang merah dan beras. Namun, situasi ekonomi yang semakin stagnan menunjukkan bahwa daya beli masyarakat sedang berkurang. Hal ini berdampak pada penurunan permintaan pasar yang mendorong perlahan penurunan harga-harga pangan.

Indeks inflasi inti, yang mencakup harga-harga yang tidak tergantung pada perubahan musiman, tercatat meningkat hingga 2,76% pada Juni 2026. Tren ini dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan dan perangkat smartphone, tetapi inflasi untuk komoditas makanan volatil berkurang menjadi 5,58% (yoy) karena penurunan penawaran dari produsen pangan. Hosianna menegaskan bahwa penurunan PMI manufaktur (46,9 pada Juni 2026) menjadi faktor utama dalam menekan tekanan inflasi.

PMI Manufaktur dan Kontraksi Ekonomi

Pada bulan Juni 2026, Indeks PMI manufaktur Indonesia turun ke 46,9, dibandingkan 50,0 di bulan Mei 2026. Angka ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur kembali masuk ke fase kontraksi, yang memengaruhi pasokan barang ke pasar. Hosianna menyoroti bahwa penurunan aktivitas industri ini membatasi tekanan inflasi dari sisi permintaan, sekaligus memberikan ruang bagi penawaran untuk menyesuaikan harga.

“Ekonom Danamon Proyeksikan Inflasi Melandai, karena penurunan aktivitas manufaktur telah menekan daya beli konsumen,” ujar Hosianna. Proyeksi ini memberikan harapan bahwa inflasi akan terus bergerak ke arah yang lebih stabil dalam beberapa bulan mendatang.

Kondisi PMI manufaktur yang berada di bawah 50 menunjukkan penurunan permintaan baru dan peningkatan persediaan industri. Faktor ini diprediksi akan menjadi faktor penyeimbang yang signifikan, terutama karena tekanan inflasi dari sisi penawaran seperti BBM nonsubsidi dan tarif transportasi masih memengaruhi harga-harga.

Berdasarkan analisis ekonomi, Hosianna menyatakan bahwa inflasi pada semester II 2026 akan terus dipengaruhi oleh keseimbangan antara tekanan biaya dan penurunan permintaan. Meskipun ada indikasi penurunan, dia memperingatkan bahwa inflasi masih perlu diawasi secara intensif, terutama jika permintaan pasar tidak pulih secara signifikan.

Ikut berdiskusi