Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut – Waspada Efeknya ke Ekonomi Domestik

Karen Brown - pusatkabar.com 3 mins baca

Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut, Waspada Efeknya ke Ekonomi Domestik Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut - KONTAN.CO.ID - JAKARTA.

Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut – Waspada Efeknya ke Ekonomi Domestik

Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut, Waspada Efeknya ke Ekonomi Domestik

Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Juniman, Kepala Ekonom Maybank Indonesia, mengungkapkan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$ 1,61 miliar, yang menjadi indikasi perubahan tren setelah surplus selama 72 bulan berturut-turut. Menurutnya, kondisi ini berpotensi terus berlanjut dan perlu diwaspadai dampaknya terhadap perekonomian dalam negeri serta nilai tukar rupiah.

Faktor Utama yang Memicu Defisit

Juniman menjelaskan bahwa ada dua penyebab utama defisit tersebut. Pertama, pelemahan rupiah yang mendorong peningkatan biaya impor, terutama bagi sektor industri. Kedua, harga minyak dunia yang tinggi pada Mei menyebabkan peningkatan impor bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan.

“Faktor utamanya ada dua. Yang pertama terkait kelemahan rupiah, yang kedua tingginya harga minyak di bulan Mei. Itu membuat impor migas melonjak dan membebani impor secara keseluruhan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Struktur Impor dan Kinerja Ekspor

Menurut Juniman, struktur impor Indonesia didominasi oleh barang baku dan barang modal, yang mencapai sekitar 80% dari total impor. Sementara itu, barang konsumsi hanya menyumbang sekitar 10%. Pelemahan rupiah mendorong pelaku industri melakukan front loading untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan mesin produksi lebih dini.

“Dengan rupiah melemah, produsen dalam negeri bebannya tinggi, sehingga mereka impor lebih awal dalam jumlah besar untuk barang baku dan barang modal. Akibatnya impor melonjak,” jelasnya.

Sementara itu, kinerja ekspor mengalami stagnasi bahkan perlambatan akibat penurunan permintaan global. Juniman menambahkan bahwa Indonesia yang bergantung pada komoditas sumber daya alam seperti CPO dan batu bara turut terdampak oleh stagnasi harga komoditas dunia.

“Ekspor kita mayoritas SDA, sekitar 60%, terutama CPO dan coal. Harganya stagnan bahkan melambat, sehingga ekspor ikut tertahan,” katanya.

Tanda-Tanda Defisit Mulai Terlihat Sejak April

Juniman juga menyoroti bahwa gejala peralihan neraca perdagangan telah terdeteksi sejak April 2026, ketika surplus menyusut drastis menjadi hanya US$ 0,09 miliar. Ia menilai kondisi ini mengindikasikan tekanan yang akhirnya berujung pada defisit di Mei.

“Kalau lihat April sudah jelas, surplus tinggal US$ 0,09 miliar. Jadi Mei sebenarnya sudah bisa diperkirakan akan defisit,” ujarnya.

Potensi Defisit Berlanjut, Kondisi Tergantung Ekspor dan Harga Minyak

Masa depan defisit masih terbuka, meski tidak sebesar Mei. Juniman memperkirakan impor tetap tinggi karena pelaku usaha terus melakukan front loading, meskipun harga minyak mulai turun ke kisaran US$ 70 per barel pada Juni.

“Kalau harga minyak sudah turun, impor migas akan ikut turun. Tapi impor barang baku dan modal masih tinggi karena front loading masih terjadi,” jelasnya.

Untuk mengurangi tekanan defisit, Juniman menilai ekspor perlu meningkat, terutama jika didukung oleh stabilitas harga komoditas dan diversifikasi pasar tujuan. Jika kondisi ini tercapai, neraca perdagangan bisa kembali ke surplus.

Risiko Terhadap Rupiah dan Ekonomi Domestik

Juniman menekankan bahwa pelemahan rupiah yang berkelanjutan, di sekitar Rp 18.000, berpotensi mendorong kenaikan harga. Rupiah kembali mengalami pelemahan hingga mencapai Rp 17.952 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (1/7/2026), melemah 0,25% dari hari sebelumnya.

Di sisi inflasi, Juniman menyebut adanya peningkatan tajam dari sekitar 3,08% yoy pada Mei menjadi 3,34% yoy pada Juni, yang memengaruhi sentimen investor.

“Investor asing akan melihat inflasi. Kalau inflasi naik, ada potensi kenaikan suku bunga, dan itu bisa mendorong outflow,” ujarnya.

Menurutnya, defisit neraca perdagangan juga akan berdampak pada neraca transaksi berjalan (CAD) dan neraca pembayaran (BoP) secara keseluruhan, meningkatkan tekanan terhadap rupiah dalam jangka menengah.

Ikut berdiskusi