Ini Daftar Harga Mineral Logam Acuan (HMA) pada Periode Kedua Juni 2026
Juni 2026 Ini Daftar Harga Mineral Logam Acuan - Badan Pengatur Jasa Perdagangan Bahan Mineral (BPJBM) telah merilis kembali daftar harga mineral logam acuan
Perubahan Harga Mineral Logam Acuan (HMA) pada Juni 2026
Ini Daftar Harga Mineral Logam Acuan – Badan Pengatur Jasa Perdagangan Bahan Mineral (BPJBM) telah merilis kembali daftar harga mineral logam acuan (HMA) untuk periode kedua bulan Juni 2026. Perubahan ini diumumkan melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026, yang ditandatangani oleh Menteri Bahlil Lahadalia pada 15 Juni 2026. Perubahan harga HMA ini menjadi acuan utama bagi industri pertambangan dan perdagangan logam di Indonesia, serta membantu pengusaha dalam pengambilan keputusan investasi dan harga jual.
Penyesuaian Harga untuk Beberapa Komoditas
Dalam periode kedua Juni 2026, terjadi penyesuaian harga pada sejumlah mineral logam. Salah satu komoditas yang mengalami penurunan adalah nikel, yang sekarang ditetapkan sebesar US$ 18.642,33 per dmt, turun dari US$ 18.799,29 per dmt pada periode pertama. Sementara kobalt tetap stabil di US$ 55.852,33 per dmt, hampir tidak berubah dari angka sebelumnya. Perubahan ini mencerminkan dinamika pasar global, di mana harga nikel terpengaruh oleh persediaan dan permintaan dari sektor industri, sementara kobalt mempertahankan konsistensi harga.
Logam dasar lainnya juga mengalami fluktuasi kecil. Timbal mengalami kenaikan tipis menjadi US$ 2.001,90 per dmt dari US$ 1.989,46 per dmt sebelumnya. Seng meningkat menjadi US$ 3.550,10 per dmt, sedangkan aluminium naik ke US$ 3.729,10 per dmt. Perubahan harga ini menunjukkan pergerakan pasar yang terkait dengan faktor ekonomi dan politik internasional, serta kebijakan produksi dalam negeri.
Kenaikan Harga Tembaga
Tembaga, salah satu logam strategis yang menjadi komoditas utama ekspor Indonesia, mengalami kenaikan harga menjadi US$ 13.648,27 per dmt, naik dari US$ 13.535,86 per dmt di periode pertama Juni 2026. Perubahan ini terjadi karena adanya permintaan yang meningkat dari industri elektronik dan energi, serta perbaikan situasi geopolitik yang memengaruhi arus pasokan ke pasar global. Harga tembaga yang terus naik memberikan dampak positif terhadap industri pertambangan dalam negeri.
Komoditas Emas dan Perak
Komoditas emas dan perak juga mencatat perubahan harga. Emas, yang biasanya mengalami volatilitas tinggi, ditetapkan di US$ 4.453,73 per ons troi, turun dari US$ 4.615,65 per ons troi sebelumnya. Perak mengalami penurunan harga menjadi US$ 73,99 per ons troi, dibandingkan US$ 79,02 per ons troi di periode pertama. Perubahan ini memengaruhi pengusaha yang terlibat dalam perdagangan logam mulia, khususnya dalam persiapan pasaran dan pembuatan produk turunan.
Metode penentuan harga HMA untuk emas dan perak menggunakan referensi dari pasar internasional, seperti LBMA Gold PM Fix dan LBMA Silver Fix. Harga emas diukur berdasarkan harga spot di London, sementara perak mempertimbangkan indikator pasar global yang berubah sesuai kondisi ekonomi dan politik. Meski harga emas dan perak turun, kinerja sektor pertambangan logam mulia tetap dinilai stabil karena permintaan tetap tinggi dari industri manufaktur dan investasi.
Penerapan Metode Settlement Price untuk Timah
Timah, salah satu mineral logam yang penting untuk industri baja dan teknologi, menggunakan metode settlement price untuk penentuan harga. Dalam periode kedua Juni 2026, harga Ingot Timah mulai dari Pb 300, Pb 200, Pb 100, Pb 050 hingga Ingot Timah 4NINE mengacu pada harga di bursa ICDX dan JFX. Metode ini memastikan transparansi dan akurasi dalam pengukuran harga, yang menjadi acuan untuk transaksi jual beli dalam dan luar negeri.
Dalam kategori mineral lainnya, harga mangan ditetapkan sebesar US$ 3,63 per dmt, bijih besi (laterit/hematit/magnetit) di US$ 1,58 per dmt, bijih krom sebesar US$ 6,37 per dmt, dan konsentrat titanium di US$ 8,96 per dmt. Perubahan harga ini membantu pihak-pihak terkait dalam mengatur strategi produksi, distribusi, serta perjanjian ekspor. Selain itu, HMA untuk mineral logam juga berpengaruh terhadap kebijakan tarif dan regulasi dalam negeri, serta memengaruhi ekspor Indonesia ke pasar internasional.
Dengan menyesuaikan harga mineral logam acuan setiap periode, BPJBM memastikan bahwa data harga tetap relevan dan sesuai dengan kondisi pasar yang berubah. Perubahan HMA ini memberikan informasi yang akurat bagi pengusaha, pemerintah, dan investor, serta membantu dalam merencanakan strategi produksi dan pengadaan bahan baku. Dalam konteks ekonomi Indonesia, harga HMA untuk logam-logam strategis berperan penting dalam menunjang pertumbuhan industri dan meningkatkan daya saing ekspor.
Harga mineral logam acuan pada Juni 2026 menunjukkan adanya dinamika yang kompleks antara faktor domestik dan internasional. Perubahan harga untuk beberapa logam mencerminkan keadaan pasar yang terus berubah, sementara konsistensi harga pada komoditas lain menunjukkan stabilitas. Dengan adanya data HMA yang baru, pengusaha dan pemangku kepentingan dapat memperoleh wawasan lebih baik dalam mengambil keputusan berbasis data. Semua perubahan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan industri pertambangan dan perdagangan Indonesia.
