Key Strategy: Bapanas Dorong Gudang Bulog di Nunukan, Logistik Pangan Perbatasan Jadi Sorotan
Bapanas Dorong Gudang Bulog di Nunukan untuk Penguatan Logistik Pangan Perbatasan Key Strategy - KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Bapanas Dorong Gudang Bulog di Nunukan untuk Penguatan Logistik Pangan Perbatasan
Key Strategy – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menekankan bahwa penguatan logistik pangan di daerah perbatasan tetap menjadi key strategy penting, meski pasokan dan harga bahan pangan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, saat ini terbilang stabil. Dalam upaya menjaga ketersediaan pangan, Bapanas mengusulkan pembangunan gudang Perum Bulog di Nunukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem distribusi di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Peran Gudang Bulog dalam Meningkatkan Efisiensi Logistik
Key Strategy ini terkait dengan kebutuhan wilayah perbatasan untuk memiliki infrastruktur logistik pangan yang lebih mandiri. Sebagai daerah yang sering menjadi titik masuk bahan pangan dari luar negeri, Nunukan perlu gudang penyimpanan yang dapat meminimalkan risiko gangguan pasokan, baik akibat kondisi cuaca maupun masalah transportasi. Pembangunan gudang Bulog di sini bertujuan untuk mempercepat distribusi bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan daging ayam ke daerah terpencil.
“Kolaborasi antara Bapanas dan pihak terkait menjadi kunci dalam memastikan key strategy ini berhasil. Dengan gudang Bulog di Nunukan, kita bisa mengurangi ketergantungan pada distribusi dari Tarakan dan memperkuat ketersediaan pangan secara lebih cepat,” jelas Andriko Noto Susanto, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, setelah melakukan inspeksi di Pasar Inhutani, Nunukan, Rabu (9/7/2026).
Pembangunan gudang Bulog di Nunukan juga diharapkan menjadi contoh keberhasilan dalam penguatan logistik pangan di wilayah perbatasan. Hal ini penting karena Nunukan memiliki akses langsung ke pasar Malaysia, yang berpotensi memengaruhi harga dan ketersediaan bahan pangan. Dengan sistem distribusi yang lebih optimal, pemerintah daerah dapat memastikan rakyatnya tidak terganggu oleh fluktuasi harga dari luar.
Kondisi Pasar dan Tantangan di Nunukan
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di Nunukan mencapai 2,08% pada Juni 2026, yang termasuk angka terendah di Kalimantan Utara. Meski demikian, kondisi pasar pangan di sini masih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama dari produk Malaysia yang memiliki harga lebih kompetitif. Masniadi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Nunukan, menambahkan bahwa pemerintah daerah sedang berupaya meningkatkan produksi lokal agar kebutuhan pangan bisa terpenuhi secara mandiri.
“Ketersediaan bahan pangan pokok di Nunukan saat ini masih terjaga, tapi kita harus waspada. Key strategy pembangunan gudang Bulog adalah salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar,” ujar Masniadi dalam wawancara eksklusif.
Dalam konteks ini, Bapanas menegaskan bahwa key strategy lainnya adalah pengembangan sistem pengawasan harga yang lebih ketat. Dengan adanya gudang Bulog, distribusi bisa lebih terarah, sehingga mencegah peningkatan harga yang tidak seimbang. Selain itu, gudang ini juga berperan dalam menyimpan stok bahan pangan untuk kebutuhan darurat, seperti bencana alam atau cuaca ekstrem.
Kabupaten Nunukan sendiri memiliki populasi sekitar 200.000 orang, dengan sebagian besar masyarakat mengandalkan bahan pangan yang masuk melalui perbatasan. Pembangunan gudang Bulog di sini diperkirakan akan meningkatkan efisiensi logistik hingga 30%, sekaligus memperkuat kemitraan dengan pihak lokal dan nasional. Strategi ini sejalan dengan tujuan nasional untuk menciptakan ketahanan pangan di semua wilayah, termasuk daerah perbatasan yang rawan fluktuasi.
Dengan key strategy ini, Bapanas berharap Nunukan menjadi model yang bisa diikuti oleh daerah lain. Selain meningkatkan ketersediaan bahan pangan, gudang Bulog juga diharapkan mendorong pertumbuhan usaha kecil menengah (UKM) lokal yang terlibat dalam distribusi. Hal ini akan menciptakan ekosistem pangan yang lebih seimbang dan berkelanjutan, serta mengurangi risiko krisis pangan di masa depan.
