Key Strategy: Potensi Surplus Solar Jadi Avtur, Nilai Investasinya Tembus Berapa?
r dan Investasi yang Diperlukan Key Strategy – Jakarta – Strategi pemerintah dalam mengalihkan surplus solar menjadi avtur dianggap menjadi langkah penting
Key Strategy: Potensi Surplus Solar ke Avtur dan Investasi yang Diperlukan
Key Strategy – Jakarta – Strategi pemerintah dalam mengalihkan surplus solar menjadi avtur dianggap menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Peneliti energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai rencana ini berpotensi memberikan manfaat besar, terutama dalam mengurangi ketergantungan impor bahan bakar pesawat. Dalam konteks kebijakan B50 yang diterapkan, konversi ini diharapkan mampu mendukung kebutuhan avtur domestik sekaligus membuka peluang ekspor ke kawasan Asia Tenggara.
Surplus Solar: Tren yang Membuka Peluang Baru
Dengan surplus solar yang terus meningkat, kapasitas kilang avtur fosil nasional pada 2026 menunjukkan Net Gap positif hingga lebih dari 4,11 juta kiloliter (kL). Yayan menambahkan bahwa ini mencerminkan kemampuan produksi dalam negeri yang jauh lebih besar dibandingkan konsumsi avtur di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya mendorong stabilitas pasokan, tetapi juga memberi ruang untuk strategi diversifikasi bahan bakar.
“Surplus solar yang signifikan ini bisa dimanfaatkan sebagai dana pendukung untuk pengembangan bio-avtur atau teknologi alternatif lainnya. Selain memenuhi kebutuhan lokal, surplus ini juga bisa menjadi fondasi untuk ekspor ke negara-negara tetangga, khususnya di kawasan Asia Tenggara,”
katanya kepada Kontan.co.id, Minggu (12/7/2026).
Langkah Konversi: Modifikasi Mode Operasi Kilang
Yayan menjelaskan bahwa konversi solar menjadi avtur tidak dilakukan dengan mengubah produk yang sudah jadi, tetapi melalui modifikasi mode operasi kilang. Contohnya, penyesuaian suhu distilasi agar fraksi minyak menengah lebih cepat diambil ke aliran kerosene. Modifikasi ini tidak memerlukan investasi besar, karena bisa dilakukan secara operasional tanpa mengganggu produksi bahan bakar konvensional.
“Modifikasi mode operasi kilang fosil ini merupakan bagian dari Key Strategy pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya energi dalam negeri. Dengan penyesuaian teknis, surplus solar bisa diubah menjadi avtur dengan efisiensi tinggi,”
kata Yayan.
Kebutuhan Bauran Bio-Avtur: Strategi Jangka Pendek
Dalam skenario jangka pendek, surplus solar pada 2026 mencapai Net Gap lebih dari 0,23 juta kL. Jumlah ini cukup untuk memenuhi bauran bio-avtur sebesar 1% hingga 2%, tanpa perlu mengimpor dari luar negeri. Bahkan, untuk kebutuhan bauran 2%, hanya sekitar 0,11 juta kL yang diperlukan dari kapasitas total 0,34 juta kL. Ini menunjukkan bahwa Key Strategy dalam mengubah surplus solar menjadi avtur bisa diterapkan secara bertahap.
Potensi Keterbatasan: Target Bauran yang Meningkat
Jika target bauran bio-avtur ditingkatkan menjadi 5% hingga 10%, risiko defisit kapasitas akan muncul. Yayan menyoroti bahwa untuk mencapai ambisi tersebut, pemerintah perlu membangun fasilitas baru sebesar 1 juta kL sebelum 2030. Tanpa langkah ini, kebijakan CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) berisiko tidak terpenuhi.
“Key Strategy dalam pengembangan bio-avtur membutuhkan koordinasi yang matang antara sektor energi dan transportasi. Selain mengubah mode operasi kilang, investasi pada bio-refinery generasi kedua menjadi kunci untuk mencapai target 5% hingga 10% bauran,”
ungkapnya.
Fasilitas Pendukung: RU Balikpapan dan Balongan
Untuk mendukung konversi solar ke avtur, Pertamina telah menyiapkan beberapa fasilitas. RU V Balikpapan, pasca-RDMP, memberi tambahan kapasitas hingga 5,6 juta kL. Sementara RU VI Balongan sedang merevitalisasi unit Kero-HTU dengan kapasitas 10.000 barel per hari (bpd), diproyeksikan menghasilkan 9.500 bpd avtur murni. Kedua fasilitas ini menjadi tulang punggung dalam penerapan Key Strategy pemerintah.
Kilang Nabati: RU Cilacap sebagai Investasi Baru
Di sisi lain, Pertamina juga melalui RU IV Cilacap meluncurkan proyek Green Refinery dengan kapasitas 6.000 bpd atau sekitar 300.000 kL per tahun. Proyek ini diresmikan pada Februari 2026 dan merupakan bagian dari Key Strategy untuk mengurangi emisi karbon. Meski masih dalam tahap awal, kilang nabati ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang.
Kisaran Investasi: Operasional vs. Mega Proyek
Biaya konversi solar menjadi avtur di kilang eksisting bersifat operasional dan tidak memerlukan modal besar. Namun, jika pemerintah mengambil langkah lebih ambisius seperti membangun pabrik avtur baru di akhir 2026, investasi akan meningkat signifikan. Dalam skenario RDMP atau kilang utuh seperti Balikpapan atau Tuban, total investasi bisa mencapai US$6–12 miliar (sekitar Rp90–180 triliun).
“Key Strategy ini memerlukan kombinasi antara penggunaan fasilitas yang sudah ada dan pengembangan infrastruktur baru. Dengan mengoptimalkan surplus solar, pemerintah bisa mengurangi biaya produksi dan mendorong pertumbuhan industri avtur dalam negeri,”
kata Yayan.
