Skip to content
Fresh Desk
Agustus 2, 2026
Nasional

MPR Pastikan Program Kompor Listrik Gratis Bergulir Tahun 2027, Begini Modelnya

Matthew Moore - pusatkabar.com 3 mins baca

JAKARTA — Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa rencana konversi energi menuju penggunaan kompor listrik maupun induksi akan terealisasi

MPR Pastikan Program Kompor Listrik Gratis Bergulir Tahun 2027, Begini Modelnya

MPR Pastikan Program Kompor Listrik Gratis Bergulir 2027

Pusatkabar.com – JAKARTA — Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa rencana konversi energi menuju penggunaan kompor listrik maupun induksi akan terealisasi sepenuhnya pada tahun 2027. Pemerintah berkolaborasi dengan pihak legislatif telah menyusun skema pendanaan khusus untuk mendistribusikan paket kompor listrik secara cuma-cuma kepada keluarga Indonesia. Inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan negara terhadap impor gas LPG berukuran tiga kilogram.

Menurut Eddy, dana yang dialokasikan untuk program tersebut telah masuk dalam pembahasan anggaran tahun depan. Konversi energi ini dinilai lebih efisien secara ekonomi dibandingkan dengan beban subsidi dan impor gas nasional yang selama ini terjadi.

“Rumah tangga hari ini masih masak menggunakan LPG, kita ganti dengan kompor listrik, kompor induksi. Di dalam pembahasan kita dengan Kementerian ESDM, untuk anggaran 2027 sudah ada anggaran khusus untuk pemberian kompor-kompor induksi kepada rumah tangga. Diberikan gratis,” ujarnya dalam acara Kompas.com Talks: Urgensi Reformasi Subsidi Energi, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Model Paket dan Manfaat Ekonomi

Eddy menjelaskan bahwa fasilitas gratis tersebut disiapkan secara lengkap, termasuk tahap instalasi jaringan daya di rumah penerima manfaat. Skema pembagian dirancang agar masyarakat dapat langsung memanfaatkan alat tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan.

“Diberikan gratis kompornya, diberikan gratis alat memasaknya, (modelnya) ada yang satu rata, yang satu semi bulat, dan diberikan pemasangan listriknya gratis. Nah itu kita hitung masih jauh lebih murah daripada kita impor LPG 3 kg,” jelasnya.

Eddy menambahkan bahwa resistensi terhadap program ini di parlemen mulai menurun seiring dengan membaiknya edukasi publik serta kesiapan manufaktur domestik. Langkah konversi energi ini juga diarahkan untuk menyerap industri dalam negeri guna menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi hijau.

“Kita juga jangan lupa, jangan sampai transisi energi kita melupakan industri dalam negeri. Pesta transisi energi kita itu bernilai US$ 190 miliar, yang harus menikmati adalah industri dalam negeri. Harus ada green industries yang tumbuh, harus ada green jobs yang dihasilkan. Oleh karena itu jangan sampai nanti kita mau transisi energi, tapi semuanya impor. Kasihan anak bangsa kita, tidak bisa membangun industri dan manufakturnya,” tandasnya.

Anggaran Jumbo dari Kementerian ESDM

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengusulkan anggaran untuk pengadaan kompor listrik dalam Pagu Indikatif tahun 2027. Anggaran yang disarankan Kementerian ESDM mencapai Rp 815,56 miliar, yang masuk ke pos anggaran milik Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE).

Bahlil menjelaskan bahwa besarnya anggaran tersebut diperuntukkan bagi kompor listrik demi mewujudkan pengurangan konsumsi LPG dalam rangka mencari alternatif energi lainnya.

“Kompor listrik karena ini kita ingin mengurangi kebutuhan LPG, kita mencari untuk bauran energi lain, jadi energi yang kita dorong ke depan tidak hanya tentang LPG tapi kompor listrik, CNG, macam-macam kita buat, itu sebesar Rp 815,56 miliar,” ujarnya dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Selain kompor listrik, terdapat juga anggaran untuk pengadaan motor listrik yang mencapai Rp 635,24 miliar. Bahlil menuturkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan anggota DPR dalam menyalurkan kompor listrik ke daerah-daerah yang membutuhkan.

“Ini saya pikir kita juga minta bantuan dari bapak ibu anggota DPR untuk bisa tahu kompor listrik ini yang membutuhkan di daerah-daerah mana saja supaya kita bisa melakukan kerja sama dan sinkronisasi,” tandasnya.

Ikut berdiskusi