New Policy: Daya Saing Indonesia Anjlok di 2026, Airlangga: Kami Teliti Permalasahannya!
New Policy: Daya Saing Indonesia Anjlok di 2026, Airlangga: Kami Teliti Permalasahannya!
New Policy: Daya Saing Indonesia Anjlok di 2026, Airlangga: Kami Teliti Permalasahannya!
New Policy – Daya saing Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026, menurut New Policy yang baru diluncurkan oleh pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomi Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan analisis menyeluruh untuk mengidentifikasi akar masalah yang menyebabkan penurunan ini. “Kita akan telusuri masalah-masalahnya dari sumber-sumber yang relevan, karena New Policy ini dirancang untuk memperbaiki kinerja daya saing secara komprehensif,” jelas Airlangga saat menghadiri acara di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Peringkat Indonesia Turun 8 Posisi, Tren Peningkatan Berhenti
Dalam laporan terbaru IMD WCR 2026, Indonesia berada di peringkat ke-48 dari 70 negara, mengalami penurunan delapan posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengakhiri tren peningkatan yang sebelumnya memperbaiki posisi negara ini menjadi peringkat 27 pada 2024. Perubahan ini mengisyaratkan tantangan besar dalam upaya memperkuat daya saing ekonomi Indonesia, terutama dalam konteks persaingan global yang semakin ketat. New Policy diharapkan menjadi jawaban strategis untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang teridentifikasi.
Tantangan Terbesar yang Mempengaruhi Daya Saing
Menurut Airlangga, penurunan daya saing Indonesia tidak terlepas dari beberapa faktor utama. Pertama, ketidakstabilan pasokan listrik yang dianggap menjadi hambatan utama bagi investasi. Kedua, tantangan dalam alokasi anggaran pemerintah yang tidak selaras dengan kebutuhan sektor prioritas. Ketiga, keterbatasan infrastruktur teknologi dan ilmiah yang masih menjadi kelemahan. Keempat, kurangnya keterampilan sumber daya manusia (SDM) yang memengaruhi produktivitas. Kelima, ketergantungan pada sumber daya alam yang mengakibatkan risiko kenaikan harga energi. “New Policy ini dirancang untuk mengatasi kelima masalah ini secara bersamaan,” tambah Airlangga.
Aspek Energi dan Perbaikan Infrastruktur
Energi menjadi komponen kunci dalam menilai daya saing suatu negara, dan penurunan kemampuan Indonesia dalam hal ini sangat kritis. Airlangga menyebutkan bahwa pemerintah akan mengalokasikan sumber daya lebih efisien dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (renewable energy) sebagai bagian dari New Policy. “Investor global kini tertarik pada keberlanjutan energi kita, sehingga New Policy fokus pada pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan pengembangan infrastruktur pendukung,” ujarnya. Selain itu, perbaikan infrastruktur teknologi dan ilmiah akan menjadi prioritas utama untuk meningkatkan daya tarik ekonomi Indonesia.
Analisis Berdasarkan Empat Pilar Utama
Laporan WCR 2026 menilai daya saing Indonesia berdasarkan empat pilar utama: ekonomi, harga, ketenagakerjaan, dan perdagangan. Meski kinerja ekonomi tetap kuat dengan peringkat 24, indikator harga dan ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan yang signifikan, masing-masing di peringkat 10 dan 28. Namun, aspek perdagangan internasional dan investasi internasional mengalami penurunan, berada di peringkat 50 dan 37. New Policy juga akan fokus pada pengoptimalan kebijakan pajak dan kerangka kelembagaan, yang sebelumnya menempati peringkat 12 dan 50.
Potensi Pemulihan dan Prioritas New Policy
Dalam rangka mengatasi penurunan daya saing, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan dalam beberapa bidang kunci. Airlangga menekankan bahwa New Policy akan menekankan efisiensi sistem energi, stabilitas pasokan listrik, serta peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan dan pengembangan. “Kami akan menggabungkan masukan dari lembaga internasional seperti OECD untuk memastikan kebijakan ini efektif,” tutur Airlangga. Peningkatan infrastruktur dan reformasi birokrasi juga akan menjadi fokus utama dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Peringkat Indonesia di skala Asia Pasifik (15 negara) turun dari 11 menjadi 14, sementara di kelompok negara dengan populasi lebih dari 20 juta jiwa, posisi Indonesia berada di 21, dibandingkan 16 tahun lalu. New Policy diharapkan tidak hanya memperbaiki penurunan ini, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. Dengan konsistensi dalam implementasi, pemerintah optimistis bahwa daya saing negara ini akan kembali meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Penutup: Langkah Pemerintah untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia
Penurunan daya saing Indonesia menjadi sorotan internasional, tetapi New Policy memberikan harapan untuk pemulihan. Airlangga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengabaikan kelemahan yang ada, sebaliknya akan memperbaikinya melalui pendekatan terstruktur. “Daya saing adalah penentu utama pertumbuhan ekonomi, dan New Policy akan menjadi fondasi untuk mendorong peningkatan kinerja Indonesia di masa depan,” pungkasnya. Dengan langkah-langkah konkret, pemerintah berupaya memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu negara yang kompetitif di pasar global.
