New Policy: Inflasi Juni Diprediksi Melonjak ke 3,45% YoY, Ini Faktor Pemicunya
elonjak ke 3,45% YoY, Ini Faktor Pemicunya New Policy - Jakarta, Kontan.CO.ID – Kenaikan inflasi pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 3,45% secara tahunan
New Policy: Inflasi Juni Diprediksi Melonjak ke 3,45% YoY, Ini Faktor Pemicunya
New Policy – Jakarta, Kontan.CO.ID – Kenaikan inflasi pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 3,45% secara tahunan (YoY), berdasarkan proyeksi para ahli ekonomi. Peningkatan ini terjadi seiring pelaksanaan New Policy yang memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan harga pangan yang terus berlangsung. New Policy menjadi faktor utama dalam mengubah dinamika inflasi bulan ini, menurut analisis yang dilakukan oleh sejumlah institusi keuangan.
Proyeksi Inflasi oleh David Sumual
David Sumual, ekonom utama Bank Central Asia, mengungkapkan bahwa inflasi Juni 2026 mencapai 3,45% YoY, meningkat dari inflasi Mei 2026 sebesar 3,08% YoY. Dalam proyeksi tersebut, inflasi bulanan (MtM) diperkirakan naik menjadi 0,55%, yang lebih tinggi dibandingkan 0,28% pada bulan sebelumnya. New Policy, khususnya kenaikan harga Pertamax, menjadi pendorong utama kenaikan inflasi ini, menurut David.
“New Policy memicu kenaikan harga Pertamax sebesar 33%, yang berkontribusi sekitar 0,37% terhadap inflasi. Selain itu, harga bahan pokok yang terus meningkat memperkuat tekanan inflasi,” jelas David dalam wawancara dengan Kontan, Senin (29/6).
Dalam analisisnya, David menyebutkan bahwa inflasi inti pada Juni 2026 diperkirakan turun menjadi 2,38% YoY, dibandingkan 2,59% YoY di Mei. Namun, inflasi inti masih mengalami deflasi 0,14% MtM, yang menunjukkan penurunan kecil dari kenaikan bulan sebelumnya. New Policy juga berdampak pada sektor logistik dan transportasi, yang menjadi penunjang peningkatan harga bahan pokok.
Analisis Banjaran Surya Indrastomo
Banjaran Surya Indrastomo, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia, memprediksi inflasi Juni 2026 berada di kisaran 3,1% YoY. Meski angka ini sedikit di bawah target inflasi Bank Indonesia (3,5%), proyeksi tersebut menunjukkan bahwa New Policy sedang memengaruhi kebijakan ekonomi secara signifikan. Banjaran menekankan bahwa kebijakan moneter, termasuk New Policy, menjadi faktor utama dalam menstabilkan harga energi.
“New Policy membantu mengendalikan inflasi energi melalui penyesuaian harga Pertamax, tetapi dampaknya terasa lebih pada jangka menengah. Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir belum sepenuhnya mengubah arah inflasi,” papar Banjaran kepada Kontan, Senin (29/6).
Menurut Banjaran, inflasi yang meningkat pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh tiga faktor: pelemahan rupiah yang memicu inflasi impor, penyesuaian harga Pertamax akibat New Policy, serta meningkatnya konsumsi selama libur sekolah. New Policy juga berperan dalam memperkuat tekanan harga pada sektor transportasi, akomodasi, restoran, dan pariwisata.
Dampak New Policy pada Harga Pangan
Kenaikan harga bahan pokok menjadi salah satu dampak langsung dari New Policy. Perubahan kebijakan tersebut memicu peningkatan biaya produksi dan distribusi, yang berdampak pada harga-harga di pasar. Misalnya, biaya transportasi bahan pangan terus naik karena New Policy meningkatkan harga BBM. Akibatnya, harga beras, minyak goreng, dan sayuran mengalami tekanan yang lebih besar.
“New Policy menyebabkan kenaikan biaya transportasi yang berdampak pada harga kebutuhan pokok. Meski pemerintah berupaya menekan inflasi melalui kebijakan moneter, kebutuhan masyarakat akan pangan tetap menjadi faktor utama dalam menggerakkan inflasi bulan ini,” tambah Banjaran.
Banjaran juga menyoroti bahwa New Policy berpotensi memperkuat tekanan inflasi pada bulan-bulan berikutnya. Kebijakan ini memengaruhi permintaan dan penawaran di pasar, terutama di sektor energi dan transportasi. Namun, ia menegaskan bahwa New Policy perlu diimbangi dengan kebijakan subsidi atau perlindungan harga untuk mengurangi dampaknya terhadap masyarakat ekonomi menengah.
Analisis Ekonomi Global dan Inflasi Impor
Pelemahan nilai tukar rupiah, yang merupakan dampak sampingan dari New Policy, memperparah tekanan inflasi dari luar negeri. Dengan rupiah yang terus melemah, harga barang impor meningkat, termasuk produk-produk pangan dan bahan bakar. Hal ini membuat inflasi domestik semakin tertekan oleh faktor eksternal.
“New Policy memperkuat tekanan inflasi impor karena nilai tukar rupiah terus turun. Kenaikan harga kebutuhan impor berdampak signifikan pada daya beli masyarakat, terutama untuk barang-barang kebutuhan pokok,” ujar David Sumual.
David menjelaskan bahwa inflasi impor menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama jika pemerintah tidak bisa mengendalikan biaya produksi secara efektif. New Policy, dalam konteks ini, membantu mengatur harga energi, tetapi juga memperbesar risiko inflasi dari kebutuhan pangan yang tergantung pada ekspor.
Menurut para ahli, New Policy menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menstabilkan ekonomi di tengah tekanan inflasi. Namun, kebijakan ini perlu diperhitungkan secara matang untuk mencegah dampak berlebihan terhadap kehidupan masyarakat. Pengawasan terhadap harga kebutuhan pokok dan langkah-langkah mitigasi inflasi impor menjadi kunci keberhasilan New Policy dalam jangka panjang.
“New Policy adalah kebijakan yang direncanakan secara matang untuk menstabilkan harga energi, tetapi dalam prakteknya, dampaknya harus diimbangi dengan kebijakan subsidi atau pembatasan harga di sektor pangan. Ini akan menurunkan risiko inflasi yang berlebihan,” jelas Banjaran.
Secara keseluruhan, New Policy berdampak signifikan pada inflasi Juni 2026, tetapi perlu dievaluasi terus-menerus agar sesuai dengan target inflasi Bank Indonesia. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting dalam mengelola ekonomi, terutama dalam menghadapi tekanan global dan meningkatkan kinerja sektor produksi di dalam negeri.
