Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

New Policy: Surplus Neraca Dagang RI Diproyeksi Naik Jadi US$ 1 Miliar pada Mei 2026

Barbara Davis - pusatkabar.com 3 mins baca

Surplus Neraca Dagang RI Diproyeksi Naik Jadi US$ 1 Miliar pada Mei 2026 New Policy menjadi faktor utama dalam menentukan perbaikan kondisi neraca dagang

New Policy: Surplus Neraca Dagang RI Diproyeksi Naik Jadi US$ 1 Miliar pada Mei 2026

Surplus Neraca Dagang RI Diproyeksi Naik Jadi US$ 1 Miliar pada Mei 2026

New Policy menjadi faktor utama dalam menentukan perbaikan kondisi neraca dagang Indonesia pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data perdagangan bulanan pada 1 Juli 2026, yang diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai pergerakan surplus. Sebelumnya, surplus neraca dagang Indonesia diperkirakan meningkat di bulan Mei setelah mengalami penurunan signifikan pada April, terutama karena lonjakan impor pasca-lebaran yang berdampak pada neraca perdagangan.

Analisis New Policy dan Faktor Penyebab Fluktuasi Surplus

Kenaikan surplus pada Mei 2026 terutama disebabkan oleh normalisasi kegiatan impor setelah pelemahan pasca-libur lebaran. Faisal Rachman, Kepala Ekonomi Makro & Penelitian Pasar PermataBank, menegaskan bahwa tren surplus perdagangan Indonesia secara umum diperkirakan menyempit sepanjang tahun 2026, namun New Policy memainkan peran kunci dalam mengembalikan keseimbangan ekonomi. “Surplus Mei yang meningkat hanya karena faktor normalisasi, bukan indikator keberlanjutan tren,” tambahnya, menekankan bahwa kebijakan tersebut mendorong stabilitas permintaan domestik.

Dalam konteks New Policy, pemerintah telah menerapkan strategi untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Kebijakan ini mencakup insentif bagi sektor manufaktur, pengoptimalan sistem logistik, serta upaya memperkuat nilai tambah produk lokal. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi defisit neraca dagang dan menggerakkan pertumbuhan ekspor yang lebih signifikan.

Kondisi Ekspor dan Peran New Policy

Di sisi ekspor, nilai perdagangan diperkirakan turun 5,11% secara bulanan akibat pelemahan harga batu bara dan crude palm oil (CPO). Namun, New Policy diyakini dapat mendorong diversifikasi ekspor ke pasar internasional yang lebih luas. “Meski permintaan dari Tiongkok terus melambat, kebijakan pemerintah memberikan harapan baru bagi sektor ekspor,” kata Faisal. Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia, dengan kontribusi ekspor mencapai sekitar 30% dari total.

Pertumbuhan ekspor tahunan pada Mei 2026 diperkirakan mengalami kontraksi 2,45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perlambatan ini dipengaruhi efek basis, karena Mei 2025 adalah bulan setelah libur lebaran yang menyebabkan lonjakan aktivitas dagang. Meski begitu, New Policy diharapkan mampu memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global, terutama melalui peningkatan kualitas dan inovasi.

Dalam jangka panjang, kebijakan pemerintah fokus pada pengembangan industri dalam negeri dan pengurangan impor non-essensial. Strategi ini mencerminkan upaya untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi tekanan pada devisa. “Perluasan surplus Mei adalah pertanda awal keberhasilan New Policy dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Faisal. Selain itu, pemerintah juga menekankan pentingnya konsistensi kebijakan dalam mewujudkan transisi ekonomi yang berkelanjutan.

Kebijakan New Policy dan Perspektif Global

Analisis terhadap New Policy menunjukkan bahwa pemerintah telah berupaya menyesuaikan kebijakan dengan dinamika pasar global. Dengan perbaikan neraca dagang, Indonesia diperkirakan mampu memperkuat posisi dalam perjanjian perdagangan internasional, seperti RCEP. “Kebijakan ini memperlihatkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekonomi di tengah persaingan global yang semakin ketat,” kata Faisal.

Secara teknis, surplus neraca dagang mencapai US$ 1,13 miliar pada Mei 2026, naik dari US$ 89,1 juta di bulan April. Lonjakan impor bulan April menjadi faktor utama penyempitan surplus, namun normalisasi aktivitas pada Mei mencerminkan adanya perbaikan. Pertumbuhan tahunan impor juga diperkirakan tetap lebih tinggi dibandingkan ekspor, meski New Policy diharapkan mampu menutupi defisit tersebut.

Perluasan surplus pada Mei 2026 menunjukkan kemajuan yang signifikan, terutama dalam konteks New Policy yang dijalankan pemerintah. Meski ada tantangan dari sisi ekspor, kebijakan tersebut berpotensi menggerakkan kenaikan volume ekspor sektor manufaktur dan pertanian. Dengan konsistensi kebijakan, Indonesia diharapkan mampu mencapai neraca dagang yang lebih seimbang sepanjang tahun 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Ikut berdiskusi