Proyeksi Uang Beredar (M2) Mulai Pulih, Tapi Risiko Pengetatan M2 Masih Mengintai
Proyeksi Uang Beredar M2 Mulai Pulih: Uang Beredar M2 Mulai Pulih, Risiko Pengetatan Mengintai Jakarta — Bank Indonesia memproyeksikan bahwa uang beredar
Proyeksi Uang Beredar M2 Mulai Pulih, Risiko Pengetatan Mengintai
Pusatkabar.com – Jakarta — Bank Indonesia memproyeksikan bahwa uang beredar kategori luas atau M2 akan mengalami pemulihan dalam periode pendek hingga menengah. Pemulihan ini didorong oleh dua faktor utama, yaitu kembalinya aliran modal asing ke Indonesia dan proses penyaluran ulang dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang dialokasikan kepada bank-bank milik Himbara. Dengan demikian, proyeksi uang beredar M2 mulai menunjukkan tren positif setelah beberapa bulan mengalami perlambatan.
Sementara itu, untuk jangka panjang, prospek likuiditas masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketidakpastian global dan kemungkinan penerapan kebijakan fiskal yang lebih agresif sebagai penyangga ekonomi menjadi dua faktor utama yang berpotensi menyebabkan pengetatan. Oleh karena itu, proyeksi uang beredar M2 mulai pulih tidak serta merta menghilangkan seluruh risiko yang ada.
Data BI Menunjukkan Perlambatan Pertumbuhan M2
Berdasarkan informasi resmi dari Bank Indonesia, laju pertumbuhan M2 pada bulan Juni 2026 tercatat melambat menjadi 8,7 persen secara tahunan atau year-on-year. Angka ini turun dibandingkan dengan capaian Mei 2026 yang mencapai 10,8 persen. Kondisi ini mengindikasikan adanya penipisan likuiditas, baik di pasar valuta asing maupun di pasar uang rupiah. Perlambatan ini menjadi sinyal awal bahwa proyeksi uang beredar M2 mulai menghadapi tekanan.
Faisal Rachman, yang menjabat sebagai Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, memberikan penjelasan mengenai penyebab perlambatan tersebut. Menurutnya, kontraksi pada Aktiva Luar Negeri Bersih atau Net Foreign Assets menjadi penyebab utama. Hal ini disebabkan oleh adanya arus modal keluar atau net capital outflow yang signifikan. Selain itu, kondisi pasar juga dipengaruhi oleh berbagai faktor ketidakpastian global, mulai dari konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah hingga sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung kembali ketat.
“Likuiditas berpeluang membaik dalam jangka pendek, tetapi risiko pengetatan masih perlu diwaspadai,” ujar Faisal kepada Kontan pada Kamis (23/7/2026).
Perkembangan terkait MSCI di dalam negeri juga turut memperburuk sentimen para investor dan menekan ketersediaan valuta asing. Semua faktor ini berkontribusi pada dinamika yang mempengaruhi proyeksi uang beredar M2 mulai pulih atau tidak dalam waktu dekat.
Pengaruh Kewajiban kepada Pemerintah Pusat
Tekanan terhadap likuiditas rupiah juga datang dari sisi internal. Meningkatnya komponen Kewajiban kepada Pemerintah Pusat atau Net Claims on Central Government menjadi salah satu penyebabnya. Fenomena ini menandakan bahwa dana pemerintah mulai kembali tersimpan di rekening pemerintah yang ada di Bank Indonesia. Langkah ini sejalan dengan penarikan sementara dana SAL dari bank-bank Himbara.
Tujuan utama dari langkah tersebut adalah untuk menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui efisiensi anggaran. Akibatnya, likuiditas rupiah mengalami pengetatan karena dana yang sebelumnya beredar di sektor perbankan kembali terserap oleh BI. Meskipun demikian, Faisal menilai bahwa tekanan tersebut mulai mereda. Arus modal asing yang kembali masuk dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan akan menopang likuiditas.
Selain itu, pemerintah juga telah menempatkan kembali dana SAL ke Himbara pada Juli 2026 sehingga dapat meningkatkan kemampuan perbankan dalam menyalurkan likuiditas ke perekonomian. Menurut Faisal, kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan M2 kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini memperkuat pandangan bahwa proyeksi uang beredar M2 mulai menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan.
Risiko Jangka Panjang Masih Ada
Namun, prospek itu belum sepenuhnya bebas risiko. Faisal mengingatkan, apabila The Federal Reserve kembali mengambil sikap lebih agresif dalam menaikkan suku bunga, arus modal ke negara berkembang berpotensi kembali melemah sehingga menekan likuiditas domestik. Di sisi lain, konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan juga dapat memicu kenaikan harga minyak dunia.
Jika kondisi itu terjadi, pemerintah kemungkinan akan mengoptimalkan APBN sebagai peredam gejolak ekonomi dengan menarik kembali sebagian dana SAL ke BI untuk memperkuat kapasitas fiskal. Langkah tersebut memang dapat memperkuat ruang fiskal pemerintah, tetapi di sisi lain berpotensi kembali menyerap likuiditas dari sistem keuangan sehingga ruang perbaikan pertumbuhan M2 menjadi lebih terbatas dalam jangka menengah hingga panjang.
Dengan demikian, meskipun proyeksi uang beredar M2 mulai pulih, para pelaku pasar perlu tetap waspada terhadap berbagai risiko yang masih mengintai. Ketahanan ekonomi Indonesia ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengelola likuiditas secara efektif di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
