Skip to content
Fresh Desk
Agustus 3, 2026
Nasional

Special Plan: CORE Soroti Salah Hitung Permintaan MBG, Harga Ayam dan Telur Tertekan

Sandra Brown - pusatkabar.com 3 mins baca

CORE Soroti Kesalahan Hitung MBG, Harga Ayam dan Telur Tertekan Tren Harga Ayam dan Telur Turun, Tapi Ada Faktor Penting Special Plan - KONTAN.CO.ID - JAKARTA.

Special Plan: CORE Soroti Salah Hitung Permintaan MBG, Harga Ayam dan Telur Tertekan

CORE Soroti Kesalahan Hitung MBG, Harga Ayam dan Telur Tertekan

Tren Harga Ayam dan Telur Turun, Tapi Ada Faktor Penting

Special Plan – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penurunan harga ayam dan telur di tingkat produsen belakangan ini tidak bisa disebut sebagai akibat sederhana dari peningkatan pasokan. Menurut analisis dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, kebijakan Special Plan yang terkait dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memengaruhi dinamika pasar. Peningkatan pasokan yang diakui sebagai salah satu faktor, ternyata bukan satu-satunya penyebab pelemahan harga tersebut.

MBG Dianggap Overestimasi, Pemicu Pasokan Berlebih

Special Plan sebagai kebijakan nasional yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui distribusi bahan pangan secara gratis, ternyata berdampak tidak terduga. Eliza Mardian, analis dari CORE, menyoroti bahwa ekspektasi permintaan MBG yang tidak realistis memicu produsen untuk meningkatkan produksi secara besar-besaran. Namun, realitasnya, permintaan sebenarnya tidak mencapai proyeksi awal, sehingga menyebabkan kelebihan pasokan yang tidak terantisipasi.

“Faktor utama yang membuat harga ayam dan telur turun adalah karena overestimasi permintaan dalam Special Plan. Kebijakan ini mendorong peningkatan produksi, tetapi kurangnya koordinasi antara target distribusi dan daya tahan anggaran nasional membuat pasokan melampaui kebutuhan konsumen,” jelas Eliza dalam wawancara dengan Kontan, Senin (29/6/2026).

Faktor Ekonomi dan Struktural Memperparah Pelemahan Harga

Selain MBG, faktor ekonomi seperti penurunan daya beli masyarakat dan krisis kredit juga berkontribusi terhadap pelemahan harga bahan pangan. Eliza menambahkan bahwa Special Plan memperkuat dampak dari kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil, karena permintaan yang tidak cukup menyerap tambahan produksi. Hal ini menyebabkan penurunan harga yang berkelanjutan, terutama pada pasar lokal.

Menurutnya, sistem distribusi yang tidak efisien juga menjadi hambatan. Banyak produsen mengalami kesulitan dalam mengarahkan produk ke pasar yang tepat, sehingga kelebihan pasokan terakumulasi di tingkat produsen. Tidak hanya itu, ketidakseimbangan antara supply dan demand di sektor pertanian memperparah masalah ini, membuat harga ayam dan telur terus tertekan.

Dampak pada Peternak dan Konsumen

Penurunan harga ini menimbulkan tantangan bagi para peternak yang sebelumnya berharap mendapatkan keuntungan dari program Special Plan. Dengan permintaan yang tidak mencapai target, banyak peternak mengalami tekanan finansial dan kesulitan mempertahankan operasional. Di sisi lain, konsumen justru menikmati manfaat karena harga bahan pokok menurun, meski distribusinya tidak merata.

Eliza menyoroti bahwa Special Plan harus disesuaikan dengan kondisi pasar aktual. Kebijakan yang dibuat tanpa analisis yang mendalam bisa menyebabkan ketidakseimbangan, seperti yang terjadi saat ini. Ia menyarankan agar pemerintah melakukan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada produsen, tetapi juga berkelanjutan dalam melayani konsumen.

Perbandingan dengan Program Lain dan Perspektif Internasional

Menurut Eliza, Special Plan menunjukkan bahwa kebijakan subsidi bahan pangan harus dirancang dengan kehati-hatian. Program serupa di negara lain, seperti di negara-negara Eropa, lebih memperhatikan prinsip pasar dan kebutuhan lokal. Sementara itu, kebijakan MBG di Indonesia saat ini lebih bersifat mengarahkan produksi daripada mengoptimalkan distribusi.

Konteks ekonomi global yang juga tidak stabil memperkuat tekanan pada sektor pertanian. Harga bahan baku produksi, seperti pakan ternak, menurun, sehingga memicu penurunan biaya produksi. Namun, kelebihan pasokan akibat Special Plan mengakibatkan penurunan harga jual yang tidak seimbang. Ini menunjukkan bahwa kebijakan pangan harus lebih fleksibel untuk menyesuaikan dinamika pasar.

Tantangan dalam Implementasi Special Plan

Pelaksanaan Special Plan menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesulitan dalam mengawal distribusi bahan pangan. Sementara produsen antusias menghasilkan lebih banyak, konsumen tidak selalu mampu menyerap volume tersebut. Hal ini terjadi karena ada faktor eksternal seperti kenaikan inflasi dan penurunan konsumsi masyarakat akibat krisis ekonomi.

Eliza menegaskan bahwa Special Plan perlu diperkuat dengan data yang akurat dan up-to-date. Sistem pemantauan yang baik akan membantu menghindari kelebihan pasokan yang memicu pelemahan harga. Ia juga menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan pola konsumsi dan kapasitas pemasaran dalam merancang kebijakan pangan di masa depan.

Ikut berdiskusi