Skip to content
Fresh Desk
Juli 20, 2026
Nasional

Special Plan: Realisasi Investasi Tembus Rp 1.010 Triliun, KSBSI Soroti Minimnya Serapan Kerja

Joseph Gonzalez 3 mins baca

Special Plan: Investasi Rp 1.010 Triliun, Serapan Kerja Minim Disoroti KSBSI Special Plan - KONTAN.CO.ID - JAKARTA.

Special Plan: Realisasi Investasi Tembus Rp 1.010 Triliun, KSBSI Soroti Minimnya Serapan Kerja

Special Plan: Investasi Rp 1.010 Triliun, Serapan Kerja Minim Disoroti KSBSI

Special Plan – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pada semester pertama tahun 2026, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp 1.010,6 triliun, tetapi serapan tenaga kerja yang dihasilkan masih dinilai kurang optimal oleh Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI). Presiden KSBSI Elly Rosita Silaban menyoroti bahwa kebijakan investasi saat ini terfokus pada sektor padat modal, sehingga memberikan dampak yang tidak seimbang terhadap pertumbuhan lapangan kerja. Menurutnya, meski angka investasi terus meningkat, kondisi ini memperlihatkan tantangan besar dalam memastikan ketersediaan pekerjaan berkualitas bagi masyarakat luas.

Kebijakan Investasi Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Serapan Tenaga Kerja

Elly menekankan bahwa Special Plan pemerintah di tahun 2026 belum sepenuhnya mencerminkan keseimbangan antara peningkatan modal dan kebutuhan pekerjaan. Ia menjelaskan bahwa investasi besar sering kali mengalir ke industri seperti hilirisasi pertambangan, smelter, logam dasar, energi, dan sektor kimia. Meski sektor-sektor tersebut memperkuat infrastruktur dan kapasitas produksi, kecenderungan ke arah teknologi tinggi dan otomatisasi justru mempersempit peluang untuk menyerap tenaga kerja secara masif.

“Special Plan tahun ini terlihat masih berfokus pada sektor bermodal tinggi, seperti hilirisasi pertambangan, smelter, dan industri logam dasar,” ujar Elly dalam wawancara dengan Kontan, Kamis (16/7/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, investasi di sektor tersebut telah menyerap sekitar 49,5% dari target total Rp 2.041,5 triliun. Namun, keberhasilan ini tidak sepenuhnya terwujud dalam peningkatan pekerjaan. Elly mengatakan bahwa kebanyakan proyek investasi berdampak pada perekrutan tenaga ahli dan profesional, sedangkan sektor padat karya seperti tekstil, garmen, sepatu, serta industri makanan dan minuman terus menghadapi tekanan dari persaingan global dan migrasi tenaga kerja ke sektor lain.

Keseimbangan Antara Teknologi dan Padat Karya Menjadi Prioritas

KSBSI menyarankan bahwa Special Plan masa depan harus mencakup strategi yang lebih holistik, yakni memadukan pengembangan sektor teknologi tinggi dengan peningkatan kapasitas industri padat karya. Elly menekankan bahwa kebijakan ini perlu mengutamakan keberlanjutan pekerjaan, termasuk menjamin upah yang adil dan pelatihan kompetensi yang relevan untuk masyarakat Indonesia. Ia juga meminta pemerintah memastikan bahwa pelaku usaha tidak hanya mengutamakan efisiensi tetapi juga kesejahteraan pekerja.

Menurut Elly, sektor padat karya tetap menjadi penyerap tenaga kerja utama, terutama di daerah-daerah. Namun, dengan dominasi investasi di sektor industri bermodal tinggi, daya saing industri lokal semakin terancam. “Special Plan harus menjadi sarana untuk mendorong keberlanjutan ekonomi, bukan hanya pertumbuhan jumlah investasi,” imbuhnya.

“Kami mengharapkan Special Plan bisa menciptakan keseimbangan antara inovasi teknologi dan keberlanjutan industri yang menyerap tenaga kerja banyak,” lanjut Elly.

Dalam perspektif pemerintah, realisasi investasi yang mencapai 49,5% dari target tahunan dianggap sebagai capaian positif. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan bahwa kebijakan ini dirancang untuk memperkuat basis ekonomi nasional. “Special Plan mencakup strategi yang terpadu, termasuk perluasan sektor hilirisasi dan peningkatan daya saing industri,” jelasnya.

Pembagian sumber dana investasi pada semester I-2026 menunjukkan ketergantungan yang hampir seimbang antara Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). PMA menyumbang 50,2% dari total realisasi, sedangkan PMDN 49,8%. Namun, Elly mengingatkan bahwa dominasi PMA di sektor tertentu justru menambah risiko ketergantungan ekonomi dan mengurangi peluang pengembangan usaha kecil menengah.

Ikut berdiskusi