Topics Covered: CORE: Terlalu Dini untuk Mengaitkan Kenaikan Laba BUMN dengan Peran Danantara
ara Masih Dini untuk Disimpulkan Topics Covered: Dalam lingkungan bisnis yang terus berubah, kenaikan laba yang terjadi di sejumlah perusahaan milik
Topics Covered: Kenaikan Laba BUMN dan Peran Danantara Masih Dini untuk Disimpulkan
Topics Covered: Dalam lingkungan bisnis yang terus berubah, kenaikan laba yang terjadi di sejumlah perusahaan milik pemerintah (BUMN) menjadi topik yang sering dibahas. Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam sistem Danantara Indonesia, seperti Krakatau Steel, Kimia Farma, dan Semen Indonesia, telah menunjukkan peningkatan kinerja keuangan sepanjang tahun 2025. Namun, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa peran Danantara secara langsung memengaruhi peningkatan laba BUMN. Dalam kajian lebih lanjut, beberapa faktor eksternal dianggap lebih dominan dalam menentukan hasil keuangan perusahaan pelat merah.
Yusuf Rendy Manilet: Faktor Eksternal Jadi Penentu Utama
Yusuf Rendy Manilet mengingatkan bahwa kenaikan laba BUMN saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan efisiensi tata kelola perusahaan yang lebih baik. “Topics Covered” yang telah diungkapkan oleh Danantara perlu dianalisis secara mendalam, karena perubahan hasil keuangan bisa disebabkan oleh perbedaan kriteria perbandingan atau kondisi eksternal yang berfluktuasi. Misalnya, harga komoditas, kebijakan pemerintah, atau biaya operasional yang berubah bisa menjadi penyebab utama kinerja keuangan yang meningkat.
“Dalam diskusi publik sering kali dua aspek ini dicampur, yaitu hasil keuangan dan efisiensi tata kelola perusahaan. Keduanya tidak selalu berjalan sejalan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (3/7).
Menurut Yusuf, perusahaan BUMN yang berada di bawah pengelolaan Danantara harus dilihat dalam konteks industri masing-masing. Meskipun ada peningkatan laba, perlu diingat bahwa keuntungan ini bisa dipengaruhi oleh situasi pasar yang tidak stabil, seperti kenaikan harga bahan baku atau kebijakan subsidi yang berubah. “Topics Covered” juga harus mencakup analisis terhadap perusahaan yang tidak menunjukkan perbaikan signifikan, agar gambaran keseluruhan bisa lebih akurat.
Contoh Kasus Pertamina dan PLN
Dalam paparan Danantara, Pertamina menjadi contoh yang menarik. Perusahaan minyak ini mencatatkan lonjakan laba hingga 80% menjadi Rp24,9 triliun antara April 2025 dan April 2026. Namun, Yusuf menyoroti bahwa angka tersebut mungkin masih bersifat sementara, karena perbandingan basisnya berbeda. “Jika menggunakan laporan keuangan auditan tahunan 2025, pendapatan Pertamina justru turun 5,9%, sementara laba bersih naik 6,8% menjadi Rp55,2 triliun,” jelasnya.
Sementara itu, PLN mengalami penurunan laba bersih sekitar 67% meski pendapatannya meningkat. Hal ini disebabkan oleh kerugian selisih kurs dan beban keuangan yang meningkat akibat eksposur utang asing. Yusuf menjelaskan bahwa perbedaan hasil antara Pertamina dan PLN menunjukkan bahwa karakteristik bisnis serta risiko industri masing-masing perusahaan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kinerja keuangan.
Perusahaan BUMN lainnya, seperti PLN, juga mengalami tekanan yang berbeda karena struktur operasionalnya yang lebih kompleks. “Topics Covered” dalam laporan konsolidasi Danantara perlu dilihat sebagai bagian dari keseluruhan proses transformasi, bukan hanya sekadar hasil akhir dari perusahaan individu.
Laporan Konsolidasi Masih dalam Proses Audit
Yusuf Rendy Manilet juga menyebutkan bahwa laporan keuangan konsolidasian Danantara hingga saat ini belum selesai diverifikasi. Hal ini membuatnya sulit untuk menilai secara objektif kontribusi lembaga tersebut terhadap seluruh portofolio BUMN. Dengan adanya laporan yang masih dalam proses audit, “Topics Covered” dalam perubahan kinerja keuangan perlu diperiksa ulang untuk memastikan tidak ada kesalahan penafsiran.
Dia mengakui bahwa peningkatan laba perusahaan seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma layak diapresiasi. Namun, Yusuf menegaskan bahwa hasil tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa transformasi BUMN di bawah Danantara secara keseluruhan berhasil. “Tanpa laporan konsolidasi yang lengkap, kita belum bisa memastikan apakah Danantara benar-benar menghasilkan nilai tambah yang signifikan,” tambah Yusuf.
Yusuf berharap bahwa proses audit bisa segera selesai, sehingga “Topics Covered” dalam kinerja BUMN bisa menjadi indikator yang lebih akurat. Dengan data yang lebih transparan, pihak berwenang bisa mengambil keputusan yang lebih tepat dalam memperbaiki tata kelola perusahaan pelat merah.
