Visit Agenda: Jumlah Orang Super Kaya Melonjak, Ekonom Ingatkan Ancaman bagi Kelas Menengah
Visit Agenda: Jumlah Orang Super Kaya Melonjak, Ancaman bagi Kelas Menengah Visit Agenda - KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Visit Agenda: Jumlah Orang Super Kaya Melonjak, Ancaman bagi Kelas Menengah
Visit Agenda – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan jumlah orang super kaya di Indonesia dalam lima tahun ke depan menjadi perhatian utama para ekonom. Laporan The Wealth Report 2026 dari Knight Frank menunjukkan bahwa pertumbuhan kekayaan ini mempercepat pergeseran distribusi ekonomi, dengan risiko meningkatnya ketimpangan antara kelompok kaya dan kelas menengah.
Visit Agenda menyebutkan bahwa tren ini mencerminkan perubahan struktur ekonomi yang signifikan. Di satu sisi, kelompok super kaya mengalami peningkatan kepemilikan aset yang cepat, sementara di sisi lain, kelas menengah menghadapi tekanan daya beli yang semakin berat. Fenomena ini menimbulkan ancaman terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, terutama dalam konteks keterlibatan masyarakat menengah dalam ekosistem perekonomian.
Analisis Myrdal Gunarto: Tren Kaya yang Tidak Seimbang
Ekonom Bank BTN, Myrdal Gunarto, menyoroti bahwa pertumbuhan jumlah individu kaya yang pesat sejalan dengan kondisi ekonomi yang fluktuatif. Menurutnya, keuntungan ekonomi dari sektor padat modal seperti teknologi dan jasa keuangan tidak sepenuhnya mencapai kelas menengah, yang tetap bergantung pada pendapatan riil dari pekerjaan.
“Visit Agenda mengingatkan bahwa lonjakan jumlah orang super kaya di tengah tekanan daya beli masyarakat menengah adalah indikator kuat ketimpangan ekonomi yang semakin melebar,” ujar Myrdal dalam wawancara dengan Kontan, Minggu (28/6).
Myrdal juga menekankan bahwa kenaikan suku bunga memperburuk situasi kelas menengah. Biaya pinjaman untuk KPR, kendaraan, dan konsumsi meningkat, sementara keuntungan dari sektor padat modal hanya terbatas pada kelompok kaya. Hal ini mengancam daya beli masyarakat menengah yang menjadi pendorong utama permintaan domestik.
Dampak Ekonomi terhadap Kelas Menengah
Visit Agenda mengungkapkan bahwa kontraksi daya beli kelas menengah bisa mengurangi konsumsi dalam negeri. Karena kelas menengah menghabiskan sebagian besar pendapatan untuk barang dan jasa lokal, perlambatan pertumbuhan ini berdampak pada sektor ritel, manufaktur, dan layanan pemerintah. Sementara itu, kelompok super kaya lebih terbiasa berdiversifikasi ke pasar global, sehingga tidak tergantung pada ekonomi domestik.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi kelas menengah adalah ketidakmampuan mengikuti laju pertumbuhan ekonomi. Ketika inflasi melonjak atau ketidakpastian ekonomi menghiasi, kelas menengah cenderung mengalami penurunan tabungan riil, sementara kelompok kaya memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah kepemilikan aset. Fenomena ini terjadi di tengah tingkat keuntungan sektor padat modal yang belum merata.
Visit Agenda juga memperlihatkan bahwa pola pertumbuhan ekonomi yang berbentuk huruf K ini bisa memicu risiko sosial. Jika mobilitas ekonomi semakin tertutup, kelas menengah bisa terjepit, sehingga mengurangi kapasitas mereka untuk berkembang. Ini berpotensi menurunkan kesejahteraan sosial dan memperkuat persepsi bahwa Indonesia mengalami ketimpangan ekonomi yang berkelanjutan.
Langkah untuk Menjaga Keseimbangan Ekonomi
Untuk mengatasi ancaman ini, Myrdal mengusulkan kebijakan yang lebih inklusif. Pertama, pemerintah perlu memastikan akses ke pendidikan dan pelatihan kerja berkualitas bagi kelas menengah. Kedua, peningkatan pengelolaan kredit konsumsi dan tabungan perlu dilakukan agar keuntungan dari sektor padat modal bisa menetes ke bawah. Ketiga, Visit Agenda menekankan pentingnya perlindungan daya beli masyarakat menengah melalui kebijakan fiskal dan moneter yang seimbang.
Visit Agenda memperlihatkan bahwa tren kenaikan jumlah orang super kaya bisa menjadi sinyal positif jika dikelola dengan baik. Namun, bila tidak disertai langkah-langkah untuk meningkatkan kesejahteraan kelas menengah, risiko ketimpangan akan semakin tinggi. Myrdal mengingatkan bahwa ekonomi yang sehat memerlukan keberlanjutan pertumbuhan yang inklusif, bukan hanya untuk kelompok kaya.
Menurut laporan Knight Frank, jumlah orang super kaya di Indonesia diperkirakan akan meningkat secara signifikan, terutama dalam sektor keuangan dan properti. Ini menunjukkan bahwa pergeseran kepemilikan aset menjadi fenomena yang kian dominan. Sementara itu, kelas menengah tetap menjadi tulang punggung konsumsi dalam negeri, sehingga keberlanjutan ekonomi sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk tetap berpartisipasi secara aktif.
