What Happened During: Daya Saing Indonesia Turun, Ekonom Soroti Lemahnya Infrastruktur dan Efisiensi Bisnis
a Saing Indonesia Turun: Ekonom Soroti Infrastruktur dan Efisiensi Bisnis What Happened During kali ini memperlihatkan penurunan daya saing Indonesia dalam
Daya Saing Indonesia Turun: Ekonom Soroti Infrastruktur dan Efisiensi Bisnis
What Happened During kali ini memperlihatkan penurunan daya saing Indonesia dalam pemeringkatan IMD World Competitiveness 2026. Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-48 dari 70 negara, turun delapan posisi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai peringkat 40. Hasil ini menjadi sorotan para ekonom karena menunjukkan kelemahan dalam sektor infrastruktur dan efisiensi bisnis, yang dianggap sebagai faktor utama yang menghambat kemampuan negara untuk bersaing secara global.
Penurunan Daya Saing dan Tren Global
Pemeringkatan IMD 2026 menunjukkan bahwa penurunan daya saing Indonesia terjadi setelah periode stabil yang sempat mengangkat negara ini ke peringkat ke-27 dunia pada tahun 2024. Meski ada perbaikan signifikan, kinerja ekonomi nasional saat ini terlihat terganggu, terutama akibat kinerja infrastruktur yang masih dinilai kurang memadai. Tren ini mengingatkan bahwa daya saing suatu negara tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan membangun fondasi yang kuat untuk mendukung produktivitas dan inovasi.
Analisis oleh para ahli menunjukkan bahwa kelembagaan pemerintah dan efisiensi bisnis menjadi aspek yang paling menurun dalam peringkatan ini. Myrdal Gunarto, Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), mengatakan bahwa persepsi lembaga internasional tentang dua faktor tersebut berkontribusi besar terhadap penurunan daya saing. Meski kinerja makroekonomi Indonesia masih stabil, hal ini tidak cukup untuk menutupi kekurangan dalam pelayanan publik dan kebijakan bisnis.
“Berdasarkan metrik IMD 2026, penurunan posisi Indonesia lebih banyak didorong oleh persepsi lembaga tersebut pada aspek kelembagaan pemerintah dan efisiensi bisnis, sementara kinerja makroekonomi domestik kita masih cukup kokoh menjadi penopang,” ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Rabu (24/6/2026).
Pemeringkatan ini juga menyoroti perbandingan Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Thailand yang berada di peringkat 45, Malaysia di posisi 15, dan Tiongkok di peringkat 12. Jarak antara Indonesia dengan negara-negara tersebut terus melebar, terutama karena adanya tantangan dalam menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di bawah 6% dalam waktu dekat. ICOR, yang mengukur efisiensi investasi, menjadi indikator kunci untuk menilai kemampuan negara dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Peran Infrastruktur dalam Daya Saing
Infrastruktur yang memadai adalah elemen penting dalam meningkatkan daya saing sebuah negara. Namun, menurut laporan IMD, Indonesia masih tertinggal dalam aspek ini. Hal ini mengakibatkan hambatan dalam distribusi sumber daya, akses ke pasar, dan efisiensi operasional perusahaan. Dalam konteks global, infrastruktur yang tidak memadai bisa mempercepat kehilangan keunggulan kompetitif, terutama dalam sektor-sektor kritis seperti logistik, transportasi, dan energi.
Para ekonom menekankan bahwa investasi dalam infrastruktur harus menjadi prioritas dalam strategi pemerintah. Kinerja infrastruktur yang buruk berdampak langsung pada biaya operasional perusahaan dan kecepatan perekonomian. Dengan What Happened During pemeringkatan tahun ini, ada kesempatan untuk mengkaji kembali kebijakan yang diambil dalam beberapa tahun terakhir. Apakah ada kelebihan dalam pengelolaan dana investasi, atau apakah ada kekurangan dalam koordinasi antar sektor?
Adapun efisiensi bisnis, Indonesia menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Banyak perusahaan masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan proses kerja dan mengurangi biaya operasional. Kebijakan regulasi yang kurang efektif dan sistem manajemen yang belum optimal menjadi penyebab utama. Dengan situasi ini, ekonom menyarankan bahwa pengelolaan bisnis yang lebih baik diperlukan untuk meningkatkan daya saing secara keseluruhan.
Menghadapi penurunan daya saing ini, pemerintah harus segera bergerak untuk memperbaiki dua aspek utama: infrastruktur dan efisiensi bisnis. Kedua faktor tersebut tidak hanya memengaruhi kinerja ekonomi saat ini, tetapi juga potensi pertumbuhan di masa depan. Dengan What Happened During penurunan ini, muncul pertanyaan apakah Indonesia sudah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperkuat posisinya dalam arena global.
