Skip to content
Fresh Desk
Juli 18, 2026
Keuangan

Special Plan: Laba BTN (BBTN) Naik 41% Tembus Rp 2,4 Triliun, Analis Sebut Lampaui Ekspektasi

Karen Williams 3 mins baca

BNB (BBTN) Catatkan Kenaikan 41% Laba Bersih, Melampaui Proyeksi Analis Special Plan - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan peningkatan kinerja yang

Special Plan: Laba BTN (BBTN) Naik 41% Tembus Rp 2,4 Triliun, Analis Sebut Lampaui Ekspektasi

BNB (BBTN) Catatkan Kenaikan 41% Laba Bersih, Melampaui Proyeksi Analis

Special Plan – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan peningkatan kinerja yang signifikan pada semester pertama 2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp 2,4 triliun, naik 41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan meningkat 17% dibandingkan kuartal II 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh penurunan biaya pencadangan kredit (CoC) yang lebih baik dari perkiraan.

Kinerja Laba Diatas Ekspektasi

Dalam riset yang dirilis Jumat (17/7/2026), Jovent Muliadi dari Indo Premier Sekuritas menilai capaian laba BBTN mengikuti tren yang positif. Realisasi tersebut mencapai sekitar 59% dari proyeksi internal dan 62% dari konsensus pasar untuk tahun fiskal 2026.

“Laba bersih semester I 2026 sebesar Rp 2,4 triliun naik 41% secara tahunan dan 17% secara kuartalan, di atas ekspektasi karena penurunan biaya pencadangan kredit (CoC) hingga 0,7%, meski PPOP mengalami pelemahan 23% secara tahunan,” tulis Jovent dalam laporannya.

Pendorong Utama: Penurunan Biaya Pencadangan

Menurut Jovent, perbaikan biaya pencadangan menjadi faktor utama yang mendukung hasil keuangan BBTN. Beban provisi menurun 61% secara tahunan atau 43% kuartalan, sehingga CoC turun 130 basis poin (bps) dibandingkan periode sebelumnya dan 17 bps dibandingkan kuartal II 2026. Angka ini masih di bawah panduan perseroan yang menetapkan 1%-1,2% untuk tahun 2026.

PPOP Mengalami Tekanan

Pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) BBTN tercatat turun 23% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 8% dan pendapatan non-bunga (non-II) yang juga menurun 3%. Sementara itu, biaya operasional hanya naik sedikit, sebesar 9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Analisis Margin dan Biaya Dana

Jovent menjelaskan bahwa margin bunga bersih (NIM) BBTN turun 90 bps secara tahunan menjadi 3,5% pada semester I 2026. Penurunan terutama terjadi akibat penyesuaian imbal hasil aset (asset yield) yang menurun 170 bps tahunan. Di sisi lain, biaya dana (CoF) membaik signifikan dengan penurunan 113 bps dibandingkan tahun lalu, meski naik 10 bps kuartalan.

Analisis Jovent menunjukkan bahwa tekanan terhadap CoF diperkirakan masih berlanjut pada kuartal III 2026 sebelum membaik di kuartal IV. Namun, peningkatan margin di masa depan bisa didukung oleh portofolio kredit pensiun yang memiliki imbal hasil 13%-14%.

Pertumbuhan Kredit Melampaui Panduan

BBTN mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11% secara tahunan atau 4% kuartalan, melebihi target yang ditetapkan sebesar 8%-10%. Pertumbuhan utama berasal dari kredit nonperumahan yang meningkat 46% tahunan, termasuk kredit konsumer yang melonjak 161% tahunan setelah akuisisi portofolio kredit pensiun SMBC senilai Rp12,6 triliun.

Kondisi tersebut mendorong peningkatan porsi kredit nonperumahan menjadi 20% dari total kredit di kuartal II 2026, dibandingkan 16% pada kuartal II 2025. BBTN menargetkan kontribusi kredit nonperumahan mencapai 30% pada 2030.

Kredit Perumahan dan Kualitas Aset

Kredit perumahan BBTN tumbuh moderat 5% tahunan. Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi naik 8% tahunan, sedangkan KPR nonsubsidi hanya meningkat 2% tahunan.

Jovent menilai kualitas aset perseroan menunjukkan peningkatan. Rasio kredit bermasalah (NPL) turun menjadi 3,0% pada kuartal II 2026, dibandingkan 3,1% kuartal I 2026 dan 3,3% kuartal II 2025. Rasio loan at risk (LAR) juga membaik menjadi 18,6% dari 19,6% kuartal I 2026 dan 20,2% kuartal II 2025. Perbaikan ini didukung oleh strategi penagihan kredit yang lebih efisien melalui regional cluster dan sentralisasi loan factory.

Valuasi Saham Masih Menarik

Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBTN dengan target harga Rp 1.900 per saham. Jovent menilai valuasi pasar saat ini masih menarik, terutama dengan peningkatan margin yang diharapkan dari akuisisi kredit pensiun.

Saat ini, saham BBTN diperdagangkan dengan valuasi sekitar 0,4 kali price to book value (P/B) proyeksi 2026 dan 4,2 kali price to earnings ratio (P/E), lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir yang masing-masing sebesar 0,8 kali P/B dan 6,6 kali P/E.

Ikut berdiskusi