Dua Bank Ini Ingin Jadi Bank Syariah Besar Pesaing BSI
Industri perbankan syariah diprediksi akan menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam beberapa tahun mendatang. Berbagai institusi keuangan mulai menyusun
BSN dan CIMB Niaga Syariah Raih Ambisi Jadi Pemain Utama Industri Perbankan Syariah
Pusatkabar.com – Industri perbankan syariah diprediksi akan menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam beberapa tahun mendatang. Berbagai institusi keuangan mulai menyusun strategi komprehensif untuk meraih posisi sebagai entitas besar, sejalan dengan visi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menginginkan kehadiran tiga hingga lima bank syariah berskala nasional sebagai penyeimbang PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Bank Syariah Nusantara: Pertumbuhan Organik sebagai Kunci
PT Bank Syariah Nusantara (BSN) juga memiliki ambisi serupa, namun memilih pendekatan berbeda dengan mengutamakan pertumbuhan organik dibandingkan aksi korporasi. Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor, menyatakan bahwa perusahaan menyambut baik inisiatif regulator tersebut.
“Bank BSN menyambut positif arah kebijakan OJK dalam memperkuat industri perbankan syariah nasional. Sebagai entitas yang telah berdiri sendiri, Bank BSN berkomitmen menjadi salah satu bank syariah terkemuka yang berkontribusi terhadap penguatan ekosistem keuangan syariah di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Alex, fokus utama BSN saat ini tertuju pada pembangunan fondasi bisnis yang kokoh melalui berbagai inisiatif. Target tahun ini mencakup aset sebesar Rp 87 triliun, pembiayaan Rp 66 triliun, serta penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Rp 69 triliun.
Data hingga Mei 2026 menunjukkan pencapaian yang menggembirakan. Aset BSN telah menyentuh angka Rp 78 triliun. Pembiayaan mengalami pertumbuhan 22,68% secara tahunan menjadi Rp 58,38 triliun, sementara DPK naik 14,68% menjadi Rp 60,62 triliun.
Alex menjelaskan bahwa dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun ke depan, BSN akan memperkuat bisnis berbasis ekosistem. Perusahaan juga akan meningkatkan penghimpunan dana murah atau current account savings account (CASA), serta memperluas digitalisasi layanan.
“Bank BSN juga akan terus meningkatkan efektivitas jaringan distribusi, mempercepat digitalisasi proses bisnis, serta memperkuat kualitas layanan agar dapat memberikan pengalaman yang lebih baik kepada nasabah,” katanya.
Di tengah tren konsolidasi industri yang sedang berlangsung, BSN belum berencana melakukan merger maupun akuisisi. Alex menegaskan bahwa prioritas utama adalah memperkuat pertumbuhan secara organik.
“Saat ini prioritas utama Bank BSN adalah memperkuat pertumbuhan secara organik. Dengan fondasi yang kuat, kami akan memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk memanfaatkan berbagai peluang pertumbuhan di masa depan,” ujar Alex.
CIMB Niaga Syariah: Target Jadi Bank Syariah Terbesar Kedua
Selain BSN, Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk juga memasang target yang sangat ambisius. Setelah resmi melakukan spin off menjadi bank umum syariah (BUS), perusahaan membidik posisi sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia paling lambat pada tahun 2030.
Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, mengungkapkan bahwa proses spin off saat ini tinggal menunggu izin usaha dari OJK.
“Di akhir semester II ini targetnya, kami masih menunggu perizinan lanjutan dari regulator,” ujar Pandji kepada Kontan.co.id.
Pandji menambahkan bahwa target menjadi bank syariah terbesar kedua sejalan dengan arah kebijakan regulator yang ingin memperkuat struktur industri perbankan syariah nasional.
“Target kami menjadi bank syariah terbesar kedua, selambat-lambatnya pada 2030,” katanya.
Untuk mencapai target tersebut, CIMB Niaga Syariah akan tetap memanfaatkan sinergi dengan induk melalui skema full leveraging. Namun, fokus ekspansi akan bergeser ke segmen ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama komunitas muslim.
“Strateginya tetap leveraging dengan induk, tetapi kami akan lebih menyasar segmen SME dan konsumer, khususnya komunitas muslim,” ujarnya.
Saat ini sekitar 45% portofolio pembiayaan CIMB Niaga Syariah masih berasal dari segmen korporasi dan komersial. Ke depan, porsi tersebut ditargetkan turun menjadi sekitar 20%, sementara pembiayaan akan lebih difokuskan ke segmen ritel dan UMKM.
Perusahaan juga menargetkan aset melampaui Rp 100 triliun pada 2030. Sebagai gambaran, hingga Maret 2026 aset CIMB Niaga Syariah telah mencapai Rp 58,82 triliun.
Selain mengembangkan pembiayaan ritel dan UMKM, pertumbuhan bisnis juga akan ditopang penguatan layanan digital berbasis OCTO, pemanfaatan jaringan kantor induk melalui skema full leveraging, serta peningkatan porsi pembiayaan hijau (green financing).
Meski memasang target pertumbuhan yang agresif, Pandji memastikan hingga kini perseroan belum memiliki rencana melakukan merger maupun akuisisi.
“Belum ada rencana aksi korporasi. Tetapi kalau di tengah perjalanan ada peluang yang baik tentu akan kami eksplorasi. Yang jelas saat ini belum ada,” ujarnya.
