Skip to content
Fresh Desk
Juli 5, 2026
Keuangan

Key Strategy: NIM Tertekan, Perbankan Makin Agresif Genjot Fee Based Income

Lisa Hernandez 3 mins baca

Tekanan pada NIM Mendorong Perbankan Tingkatkan Pendapatan Berbasis Komisi Key Strategy - KONTAN.CO.ID - JAKARTA.

Key Strategy: NIM Tertekan, Perbankan Makin Agresif Genjot Fee Based Income

Tekanan pada NIM Mendorong Perbankan Tingkatkan Pendapatan Berbasis Komisi

Key Strategy – KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan biaya dana (cost of fund) yang memengaruhi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) mendorong sejumlah bank memperkuat strategi pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI). Tekanan ini terjadi karena ruang pertumbuhan pendapatan bunga semakin sempit, sehingga memaksa perbankan mencari alternatif lain untuk menjaga profitabilitas.

Kondisi NIM yang Turun

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NIM industri perbankan pada April 2026 berada di level 4,38%. Angka ini lebih rendah dibandingkan April 2025 yang mencapai 4,45% dan Desember 2025 sebesar 4,56%. Penurunan tersebut menjadi faktor pendorong utama bagi keputusan bank untuk mempercepat diversifikasi sumber pendapatan.

Strategi Diversifikasi

Bank-bank kini lebih fokus pada pengembangan layanan transaksi digital, sistem pembayaran, serta bisnis treasury, wealth management, bancassurance, hingga jasa keuangan berbasis ekosistem. Myrdal Gunarto, staf riset ekonomi makro dari Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, menjelaskan bahwa perubahan ini adalah respons atas tekanan pada pendapatan bunga.

“Bank saat ini memang semakin agresif memacu pendapatan berbasis komisi. Ketika tren suku bunga tinggi atau pengetatan likuiditas menekan NIM, bank tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendapatan bunga sebagai motor utama laba,” ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Kamis (2/7/2026).

Pendapatan Berbasis Komisi sebagai Penyangga

Myrdal menegaskan bahwa meskipun FBI belum dapat sepenuhnya menggantikan kontribusi pendapatan bunga, ia tetap menjadi penyangga yang efektif. Model bisnis perbankan masih bertumpu pada fungsi intermediasi, namun FBI berpotensi menjaga rasio profitabilitas seperti return on assets (ROA) dan return on equity (ROE), bahkan saat NIM mengalami penurunan hingga 30 basis poin.

“FBI memiliki keunggulan karena bersifat capital light dan tidak menanggung risiko gagal bayar seperti pendapatan bunga,” katanya.

Perubahan Sumber Pendapatan FBI

Sumber utama pendapatan berbasis komisi di beberapa bank besar telah bergeser signifikan. Sebelumnya, FBI didominasi oleh provisi kredit dan biaya administrasi, tetapi kini pertumbuhan utama berasal dari transaksi digital, sistem pembayaran, bisnis treasury, wealth management, bancassurance, hingga jasa trade finance dan kredit sindikasi.

“Pendapatan dari mobile banking, QRIS, virtual account, treasury, wealth management, bancassurance hingga arranger fee kini menjadi motor utama pertumbuhan FBI,” ujarnya.

Proyeksi Pertumbuhan FBI

Myrdal memperkirakan tren peningkatan kontribusi pendapatan non-bunga akan terus berlanjut. Saat ini, porsi FBI dalam total pendapatan operasional bank menengah berkisar 15%-20%, sementara bank besar mulai menargetkan angka 25%-30%.

“Ke depan bank akan semakin memposisikan diri sebagai ekosistem keuangan atau banking as a service, sehingga setiap aktivitas finansial nasabah menghasilkan pendapatan berbasis komisi yang berulang,” jelasnya.

CIMB Niaga Perkuat Fee Income

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa perseroan telah memperkuat pendekatan pengembangan pendapatan berbasis komisi dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini diambil sebagai upaya mengimbangi tekanan pada pendapatan bunga yang semakin berat.

“Kami telah memperkuat approach untuk fee income dalam beberapa tahun terakhir yang cukup membantu sisi pendapatan di tengah kondisi saat ini, di mana pendapatan bunga menjadi sangat tertantang karena NIM tergerus,” ujar Lani.

Penurunan Pendapatan Bunga dan Kontribusi FBI

Secara tahunan (year on year/yoy), pendapatan berbasis komisi CIMB Niaga hingga Mei 2026 mencapai sekitar Rp1,13 triliun atau tumbuh 18,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp952,2 miliar. Meski demikian, Lani mengakui bahwa FBI belum mampu sepenuhnya menggantikan penurunan pendapatan bunga.

“Namun harus diakui bahwa fee income tidak bisa mengganti 100% kehilangan pendapatan bunga, walaupun fee to income ratio kami menjadi salah satu yang terbaik di pasar sekitar 33%,” katanya.

BTN Terus Perluas Ekosistem Digital

Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, menyatakan bahwa perseroan juga terus memperkuat FBI sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pendapatan. Hal ini dilakukan guna menjaga kualitas profitabilitas di tengah tekanan biaya dana dan NIM.

Ikut berdiskusi