Skip to content
Fresh Desk
Juni 25, 2026
Nasional

Key Strategy: CORE Usul MBG Fokus ke Daerah 3T dan Kelompok Rentan demi Efisiensi Anggaran

Lisa Hernandez 3 mins baca

aerah 3T dan Kelompok Rentan dalam MBG Key Strategy menjadi prioritas utama dalam rencana evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusulkan oleh

Key Strategy: CORE Usul MBG Fokus ke Daerah 3T dan Kelompok Rentan demi Efisiensi Anggaran

Strategi Fokus pada Daerah 3T dan Kelompok Rentan dalam MBG

Key Strategy menjadi prioritas utama dalam rencana evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusulkan oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Menurut ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet, pendekatan ini bertujuan meningkatkan efisiensi anggaran dan memastikan dampak sosial serta ekonomi program lebih maksimal. Dengan memperhatikan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok rentan, pemerintah dapat memaksimalkan kontribusi MBG terhadap peningkatan kesehatan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal.

Manfaat Pemetaan Sasaran yang Lebih Terarah

Yusuf menjelaskan bahwa daerah 3T masih menghadapi tantangan signifikan seperti tingkat stunting yang tinggi, akses pangan bergizi yang terbatas, dan tingkat kemiskinan yang relatif lebih besar. Dengan fokus pada wilayah ini, alokasi anggaran dapat digunakan secara optimal, karena kebutuhan gizi masyarakat di sana lebih mendesak dibandingkan daerah lain. Selain itu, strategi ini juga diharapkan bisa memperkuat kapasitas produksi dan distribusi makanan sekaligus menciptakan ketergantungan lokal yang lebih baik.

Key Strategy dalam MBG tidak hanya menyangkut efisiensi anggaran, tetapi juga menekankan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, terutama UMKM lokal. Yusuf menekankan bahwa keterlibatan pelaku usaha kecil di daerah 3T dapat meningkatkan alur distribusi dan memastikan keberlanjutan program. Pendekatan ini juga mengurangi risiko ketidakseimbangan pasokan pangan, karena pengadaan dilakukan secara lebih terpusat di wilayah sasaran.

Penjelasan Keterlibatan UMKM dalam Rantai Pasok

Dalam konteks ekonomi, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa memperluas kerja sama dengan UMKM lokal dapat menciptakan efek domino. Misalnya, kelompok tani yang terlibat dalam MBG akan menerima bantuan langsung dari pemerintah, sehingga meningkatkan daya beli petani. Sementara itu, pengolah pangan kecil dan distributor lokal juga akan mendapat manfaat dari permintaan yang meningkat. Hal ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membantu mengurangi tingkat inflasi pangan di wilayah terpencil.

Yusuf menambahkan bahwa penggunaan anggaran secara lebih efisien bisa terlihat dari peningkatan rasio pengadaan dari UMKM lokal. Dengan fokus pada daerah 3T, program MBG diharapkan mampu memastikan bahwa manfaat langsung berada di tangan masyarakat penerima. Dalam hal ini, Key Strategy menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara keadilan sosial dan pertimbangan anggaran yang bijak.

Tantangan dan Persiapan Implementasi

Meski Key Strategy ini memiliki potensi besar, Yusuf menyoroti tantangan yang perlu diatasi. Banyak UMKM di daerah 3T masih menghadapi masalah seperti keterbatasan infrastruktur, kurangnya sertifikasi produksi, serta kesulitan dalam memenuhi standar kualitas pangan. Untuk memastikan program berjalan lancar, pemerintah perlu melakukan pendampingan yang terstruktur, seperti pelatihan teknis, bantuan permodalan, dan fasilitasi akses pasar.

Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa transisi ke Key Strategy ini harus dilakukan secara bertahap. Pemetaan wilayah yang akurat dan pengawasan ketat diperlukan untuk memastikan tidak ada kelompok yang terlewatkan. Selain itu, risiko gangguan distribusi pangan akibat perubahan global harus diminimalkan dengan menyiapkan cadangan pasokan yang cukup. Ini bisa dicapai melalui kerja sama dengan sektor pertanian dan logistik dalam wilayah sasaran.

Implementasi Key Strategy dalam MBG juga memerlukan pertimbangan terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat. Dengan melibatkan UMKM lokal, konsumen akan lebih terbiasa dengan produk lokal yang berkualitas, sehingga mendorong keberlanjutan konsumsi dalam jangka panjang. Yusuf menyarankan pemerintah membangun sistem pengawasan yang terpadu, termasuk mengukur indikator seperti penurunan angka stunting, peningkatan pendapatan rumah tangga, serta penciptaan lapangan kerja baru dalam sektor pertanian dan pangan.

Dalam kesimpulannya, Yusuf Rendy Manilet menegaskan bahwa Key Strategy ini tidak hanya efektif dalam menekan pengeluaran anggaran, tetapi juga berdampak signifikan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan memadukan penguatan ketahanan pangan dan kesetaraan ekonomi, pendekatan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mencapai tujuan nasional dalam pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Ikut berdiskusi