Skip to content
Fresh Desk
Juni 25, 2026
Nasional

New Policy: Peringkat Daya Saing RI Turun Tajam, IMD Soroti Tantangan Ekonomi Global

John Johnson 3 mins baca

New Policy Mengurangi Peringkat Daya Saing RI, IMD Soroti Tantangan Ekonomi Global New Policy - Peringkat daya saing Indonesia mengalami penurunan signifikan

New Policy: Peringkat Daya Saing RI Turun Tajam, IMD Soroti Tantangan Ekonomi Global

New Policy Mengurangi Peringkat Daya Saing RI, IMD Soroti Tantangan Ekonomi Global

New Policy – Peringkat daya saing Indonesia mengalami penurunan signifikan berkat kebijakan baru yang diterapkan. Menurut laporan terbaru dari IMD World Competitiveness Center (WCC), Indonesia berada di peringkat ke-48 dunia pada tahun 2026, turun dari posisi 40 di tahun sebelumnya. Ini mengakhiri tren positif yang sempat menempatkan negara ini di peringkat 27 pada 2024. Kebijakan baru yang menjadi fokus utama ini menunjukkan tantangan yang semakin kompleks dalam mempertahankan daya saing ekonomi di tengah dinamika global yang terus berubah.

Konteks Perubahan Ekonomi Global

Analisis ekonomi global menunjukkan bahwa perekonomian dunia menghadapi fase baru yang ditandai oleh ketidakpastian yang meningkat, fluktuasi pasar yang tak terduga, dan persaingan yang lebih ketat. Chief Economist IMD, Jose Caballero, mengatakan bahwa penguasaan kebijakan baru menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi posisi Indonesia dalam laporan daya saing terbaru.

“Kebijakan baru telah berdampak langsung pada struktur ekonomi nasional, terutama dalam pengelolaan sumber daya dan respons terhadap tekanan pasar global,” jelas Jose Caballero.

Hal ini memperkuat kebutuhan akan kebijakan yang lebih adaptif dan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekonomi.

Faktor Penyebab Penurunan Daya Saing

Penurunan peringkat daya saing Indonesia terkait erat dengan pergeseran pola perdagangan internasional dan fragmentasi geopolitik yang mengganggu rantai pasok global. Kebijakan baru yang diterapkan di sektor pangan, energi, dan investasi memberikan tekanan tambahan pada biaya operasional perusahaan, terutama yang bergantung pada impor. Sementara itu, keterbatasan akses ke keuangan yang ditingkatkan oleh kebijakan moneter ketat juga berkontribusi pada penurunan kemampuan Indonesia untuk menarik investasi asing dan meningkatkan produktivitas.

Sejumlah faktor struktural seperti ketidakseimbangan distribusi pendapatan, ketergantungan pada sektor tertentu, dan keterbatasan inovasi teknologi menjadi kelemahan yang terlihat jelas dalam laporan ini. Kebijakan baru yang dijalankan pemerintah menunjukkan upaya untuk mengatasi tantangan ini, namun efeknya terasa lambat karena banyaknya hambatan dari sistem ekonomi yang tidak fleksibel. Ini menegaskan bahwa kebijakan yang tepat harus didukung oleh kestabilan politik dan infrastruktur yang memadai.

Peran Kualitas Institusi dalam Kebijakan Baru

Kualitas institusi menjadi kunci dalam mengevaluasi keberhasilan kebijakan baru. Menurut Jose Caballero, daya saing ekonomi Indonesia tergantung pada kepercayaan dunia usaha terhadap sistem regulasi dan kemampuan pemerintah untuk menciptakan lingkungan bisnis yang stabil.

“Kebijakan baru yang dijalankan tidak cukup hanya mengubah aturan, tetapi juga harus memastikan transparansi dan efektivitas dalam penerapannya,” tambahnya.

Ini mengisyaratkan bahwa kebijakan harus didesain dengan perhatian khusus pada kelembutan transisi dan keberlanjutan jangka panjang.

Dalam konteks ini, penurunan daya saing Indonesia menjadi cerminan dari ketidaksempurnaan sistem ekonomi yang tidak selaras dengan kebutuhan pengembangan pasar global. Kebijakan baru yang diterapkan pada sektor pemerintahan dan kebijakan ekonomi perlu disesuaikan dengan dinamika pasar, termasuk kompetisi dari negara-negara lain yang lebih beradaptasi dengan perubahan ekonomi. Kebijakan yang efektif harus mencakup reformasi struktural yang berkelanjutan, tidak hanya dalam jangka pendek.

Strategi untuk Memperkuat Daya Saing

Untuk memperbaiki peringkat daya saing, Indonesia perlu mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dalam kebijakan baru. Hal ini melibatkan peningkatan investasi pada pendidikan, inovasi, dan kebijakan perdagangan yang lebih inklusif. Kebijakan baru yang fokus pada diversifikasi ekonomi dan pengurangan ketergantungan pada sektor-sektor tradisional diharapkan bisa mengembalikan daya saing Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

“Kebijakan baru harus menjadi alat untuk memperkuat ekosistem ekonomi, bukan hanya penyesuaian sementara terhadap krisis yang terjadi,” kata Jose Caballero.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kebijakan baru tidak cukup mengubah struktur, tetapi juga harus memastikan kestabilan hukum, kebijakan yang konsisten, dan fasilitas pelayanan publik yang memadai. Peringkat daya saing Indonesia yang menurun mencerminkan adanya ketidaksempurnaan dalam implementasi kebijakan, terutama di sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Dengan kebijakan yang lebih inovatif dan berfokus pada keberlanjutan, Indonesia berpotensi memperbaiki posisinya dalam rangka menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.

Ikut berdiskusi