Skip to content
Fresh Desk
Juli 14, 2026
Keuangan

Special Plan: Valuasi Saham Big Bank Sudah Murah, Simak Rekomendasi Analis

Joseph Gonzalez 4 mins baca

Special Plan: Valuasi Saham Big Bank Masih Murah, Analis Optimistis dengan Rekomendasi Investasi Special Plan - Dalam bursa saham pada hari Jumat, 10 Juli

Special Plan: Valuasi Saham Big Bank Sudah Murah, Simak Rekomendasi Analis

Special Plan: Valuasi Saham Big Bank Masih Murah, Analis Optimistis dengan Rekomendasi Investasi

Special Plan – Dalam bursa saham pada hari Jumat, 10 Juli 2026, valuasi saham perusahaan-perusahaan bank besar (Big Bank) kembali menjadi fokus utama dalam Special Plan. Meskipun beberapa saham perbankan mengalami kenaikan mingguan, harga yang terpantau masih menarik bagi investor. Analis menilai bahwa peluang untuk memperoleh keuntungan dalam sektor ini masih terbuka, terutama jika kondisi ekonomi global dan domestik terus membaik.

Analisis Kinerja Saham Bank-Bank Utama

Valuasi saham bank-bank besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang beragam pada akhir pekan ini. Bank Central Asia (BBCA) mengalami penurunan 0,40% ke Rp 6.175 per saham, meski secara mingguan menunjukkan kenaikan 2,07%. Sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) tetap stabil di Rp 3.420 per saham dengan kenaikan 5,23% dalam sepekan. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) juga mencatat peningkatan 0,36% serta 0,99% masing-masing, menunjukkan stabilitas di tengah volatilitas pasar. Dalam Special Plan, keberagaman ini menjadi indikator positif bahwa sektor perbankan masih layak dipertimbangkan sebagai aset investasi.

Analisis dari RHB Sekuritas: Peluang dan Tantangan

Analisis RHB Sekuritas menyoroti bahwa valuasi saham perbankan yang relatif rendah masih memberikan ruang untuk kenaikan dalam Special Plan. Selain itu, kombinasi sentimen global dan domestik yang mendukung sektor ini membuka peluang bagi investor untuk memperoleh keuntungan. Sebagai contoh, penguatan saham teknologi di Amerika Serikat dan kebijakan moneter yang moderat di Indonesia dinilai sebagai faktor penunjang.

“Valuasi sektor perbankan dalam Special Plan masih di bawah rata-rata historis, sehingga memiliki potensi untuk re-rating jika pelaku pasar tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi,” jelas Andrey Wijaya, Analis RHB Sekuritas.

Andrey menegaskan bahwa investor asing masih bersikap selektif dalam menentukan arus dana ke sektor perbankan. Mereka menunggu kepastian kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan The Fed, serta stabilitas likuiditas perbankan. Namun, dalam Special Plan, analis menilai bahwa jika ada perbaikan di sektor keuangan, saham bank besar bisa menjadi pilihan yang menarik.

Rekomendasi dari Mirae Asset Sekuritas

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, memperkuat pandangan bahwa valuasi saham big bank dalam Special Plan masih menawarkan potensi pertumbuhan. Dalam analisisnya, Nafan menyebutkan bahwa kinerja industri perbankan hingga Mei 2026 telah mencerminkan performa semester I, tetapi hasil akhir masih bergantung pada realisasi di bulan Juni.

Pertumbuhan kredit yang berlanjut meski lebih selektif, serta kenaikan likuiditas, dinilai sebagai faktor penentu dalam Special Plan. Nafan menilai bahwa bank swasta memiliki keunggulan dalam menarik dana murah (CASA) dan fokus pada segmen yang menawarkan margin tinggi, yang membuat mereka lebih berpotensi untuk menguntungkan investor.

Strategi Investasi dalam Special Plan

Dalam Special Plan, RHB Sekuritas menetapkan rekomendasi overweight terhadap sektor perbankan, dengan beberapa saham menjadi pilihan utama. Pilihan seperti BMRI, BBRI, BRIS, BBTN, dan BNGA diperkirakan akan mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik jika kondisi ekonomi terus mendukung. Sementara BBCA dianggap sebagai pilihan defensif karena kualitas aset yang stabil dan likuiditas kuat.

Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan rekomendasi accumulative buy untuk saham big bank, dengan target harga yang lebih optimistis. Dalam analisis mereka, BBCA diberi target Rp 7.900, BBNI Rp 4.220, BBRI Rp 3.450, dan BMRI Rp 5.600. Dengan kombinasi ini, Special Plan menjadi strategi yang konsisten untuk mengejar pertumbuhan dalam jangka menengah.

Faktor Pendukung dalam Special Plan

Untuk memperkuat strategi Special Plan, beberapa faktor perlu diperhatikan. Pertama, fleksibilitas dalam menentukan harga kredit dan kemampuan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) menjadi keunggulan bank swasta. Kedua, stabilitas nilai tukar rupiah dan kebijakan moneter yang moderat juga mendukung kondisi pasar yang lebih menguntungkan.

Transformasi digital yang sedang berlangsung dalam sektor perbankan dinilai sebagai faktor penting dalam Special Plan. Proses digitalisasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga profitabilitas perusahaan-perusahaan yang terlibat. Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan aktivitas investasi swasta juga akan memperkuat likuiditas pasar, yang berdampak positif terhadap keuntungan dalam jangka pendek.

Perkembangan Ekonomi Global dalam Special Plan

Kinerja saham big bank dalam Special Plan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga oleh perkembangan ekonomi global. Kenaikan suku bunga di beberapa negara berkembang dan penguatan ekonomi Amerika Serikat berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Namun, perubahan kebijakan moneter global juga bisa memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan mengubah dinamika pasar.

Analisis terkini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam Special Plan akan bergantung pada keseimbangan antara tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Jika kenaikan suku bunga terus berlangsung, bank-bank besar yang memiliki fleksibilitas operasional dan likuiditas tinggi akan lebih tahan terhadap perubahan ekonomi. Sebaliknya, bank Himbara yang masih terikat pada penugasan pemerintah mungkin mengalami pertumbuhan yang lebih terbatas.

Dengan faktor-faktor tersebut, Special Plan dinilai sebagai strategi yang relevan untuk menghadapi dinamika pasar yang kompleks. Kombinasi antara analisis lokal dan global memberikan gambaran bahwa sektor perbankan masih memiliki potensi untuk memberikan keuntungan, terutama jika investor bersikap sabar dan memantau indikator ekonomi secara berkala.

Ikut berdiskusi