Skip to content
Fresh Desk
Juli 2, 2026
Keuangan

New Policy: Dana SAL Disuntik ke Himbara, Bisakah Pertumbuhan Kredit Sesuai Target?

Elizabeth Moore 3 mins baca

New Policy: Dana SAL Ditempatkan di Himbara untuk Dorong Pertumbuhan Kredit New Policy menjadi perhatian utama sektor keuangan setelah pemerintah memutuskan

New Policy: Dana SAL Disuntik ke Himbara, Bisakah Pertumbuhan Kredit Sesuai Target?

New Policy: Dana SAL Ditempatkan di Himbara untuk Dorong Pertumbuhan Kredit

New Policy menjadi perhatian utama sektor keuangan setelah pemerintah memutuskan menunda penarikan dana SAL (Saldo Anggaran Lebih) dari Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) hingga akhir tahun 2026. Keputusan ini bertujuan mengurangi tekanan likuiditas dan memastikan pertumbuhan kredit tetap stabil sepanjang masa transisi. Selain itu, kebijakan ini juga menunjukkan upaya pemerintah untuk memperkuat kemitraan dengan lembaga keuangan publik, sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar.

Dengan New Policy ini, Kemenkeu menyuntikkan dana siaga sebesar Rp 100 triliun ke Himbara sebagai bagian dari strategi mendukung stabilitas sistem keuangan. Sebelumnya, dana SAL senilai Rp 200 triliun telah dipulangkan oleh Himbara sejak September 2025, yang mengakibatkan tekanan likuiditas pada bank-bank. Kini, New Policy memberikan waktu tambahan hingga akhir 2026 bagi lembaga keuangan untuk mengatur alur dana, sehingga bisa fokus pada penyaluran kredit.

Perspektif Industri dan Bank

Kebijakan New Policy mendapat sambutan positif dari sejumlah direktur bank, meski tetap ada kekhawatiran terkait ketahanan sistem. Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan bahwa dana SAL menjadi penyangga penting dalam mengatasi krisis likuiditas, khususnya di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi. “New Policy ini memberi ruang untuk perbankan mencari jalan keluar dari tekanan dana,” jelasnya.

“Sektor keuangan butuh waktu untuk menyesuaikan proses penyaluran kredit,” tambah Hery, Senin (29/6/2026). Ia menegaskan bahwa pemberian dana siaga membantu menstabilkan proses pemberian kredit, terutama kepada usaha kecil dan menengah yang rentan terhadap risiko finansial.

Di sisi lain, beberapa pihak khawatir bahwa New Policy tidak cukup menyelesaikan masalah likuiditas jangka panjang. Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah menyoroti bahwa dana SAL harus dipakai secara efisien, karena hanya tersedia selama beberapa bulan. “New Policy ini bisa jadi solusi sementara, tetapi perlu diperkuat dengan kebijakan berkelanjutan,” katanya.

Analisis Ekonom dan Peluang Pertumbuhan

Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, New Policy diambil untuk memastikan pertumbuhan kredit mencapai target 13%-14% sepanjang tahun 2026. Ia menjelaskan bahwa dana SAL akan menjadi bantalan likuiditas bagi perbankan, terutama di tengah kondisi suku bunga yang tinggi. “New Policy ini mencegah laju pertumbuhan kredit melambat karena tekanan dari kenaikan bunga,” ujarnya.

“Himbara bersama pemerintah akan bekerja sama memastikan dana siaga digunakan secara optimal,” tambah Purbaya. Menurutnya, pemberian dana SAL bisa meningkatkan efisiensi dalam penyaluran kredit ke sektor produktif, seperti infrastruktur dan industri yang menggerakkan perekonomian nasional.

Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menilai New Policy memberikan ruang bagi perbankan untuk menyesuaikan strategi penyaluran kredit. Ia mengungkapkan bahwa dana SAL lebih tepat digunakan sebagai bantalan likuiditas, terutama ketika pasar modal sedang tidak stabil. “New Policy ini memberi kesempatan bagi bank untuk fokus pada bisnis yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

Kondisi Pasar dan Tantangan di Depan

Manilet juga memperingatkan bahwa keberhasilan New Policy bergantung pada kinerja pasar. “New Policy tidak bisa menjamin pertumbuhan kredit tanpa adanya permintaan dari masyarakat,” katanya. Ia menambahkan bahwa daya beli masyarakat dan kepercayaan investor masih menjadi faktor kunci dalam menentukan volume kredit yang akan tersalur.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menegaskan bahwa New Policy memperkuat kemitraan antara pemerintah dan sektor keuangan. Namun, ia juga menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit tetap tergantung pada kemampuan bank untuk menyesuaikan produk dan strategi dengan dinamika pasar. “New Policy menjadi langkah awal, tetapi perlu disertai kebijakan yang lebih luas,” katanya.

Dengan New Policy, pemerintah memberikan ruang bagi Himbara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan moneter dan keuangan. Tantangan utama adalah mengelola dana SAL secara efektif, mengingat waktu pencairan hanya tersedia hingga akhir tahun 2026. “New Policy ini mendorong kolaborasi untuk memastikan dana dialokasikan ke sektor yang paling membutuhkan,” pungkas Lani.

Ikut berdiskusi