Skip to content
Fresh Desk
Juli 2, 2026
Keuangan

Special Plan: Bank Sampoerna Perkuat Mitigasi Risiko Untuk Jaga Kualitas Kredit UMKM

Karen Williams 3 mins baca

Bank Sampoerna Perkuat Mitigasi Risiko dalam Special Plan untuk Kualitas Kredit UMKM Special Plan menjadi salah satu strategi utama yang diterapkan oleh Bank

Special Plan: Bank Sampoerna Perkuat Mitigasi Risiko Untuk Jaga Kualitas Kredit UMKM

Bank Sampoerna Perkuat Mitigasi Risiko dalam Special Plan untuk Kualitas Kredit UMKM

Special Plan menjadi salah satu strategi utama yang diterapkan oleh Bank Sahabat Sampoerna untuk menjaga kualitas kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tengah tantangan ekonomi yang semakin dinamis. Dalam rangka menghadapi tekanan dari pelemahan daya beli masyarakat pasca-pandemi serta perubahan dinamika global, bank ini mengalokasikan sumber daya dan mekanisme terpadu guna memperkuat sistem mitigasi risiko. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan portofolio kredit tetap stabil dan mampu mendukung pertumbuhan UMKM secara berkelanjutan.

Special Plan: Strategi Mitigasi yang Terukur

Special Plan ini mencakup berbagai langkah spesifik, termasuk penguatan pengawasan debitur, penerapan teknologi digital, dan kerja sama dengan mitra keuangan. Henky Suryaputra, Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis Bank Sahabat Sampoerna, menjelaskan bahwa keberhasilan Special Plan bergantung pada konsistensi dalam mengelola risiko sejak tahap awal penyaluran. “Dengan pendekatan ini, kita bisa mengurangi potensi risiko kredit bermasalah secara signifikan,” ujarnya.

Kebijakan pencadangan dan pengelolaan NPL (Non Performing Loan) dijaga dengan ketat dalam rangka Special Plan. Data terbaru menunjukkan bahwa rasio NPL gross Bank Sahabat Sampoerna mencapai 4,51% hingga akhir Maret 2026, menurun dari 4,81% di periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan ini mencerminkan efektivitas strategi mitigasi yang diterapkan, termasuk penggunaan sistem analitik dan early warning system sebagai bagian dari Special Plan.

Penyaringan Debitur dan Pemantauan Digital

Dalam kerangka Special Plan, Bank Sahabat Sampoerna terus mengembangkan metode penyaringan debitur yang lebih ketat. Hal ini dilakukan untuk memastikan calon peminjam memiliki kemampuan pembayaran yang memadai sebelum mendapatkan kredit. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital menjadi pilar utama dalam memperkuat kemampuan monitoring kredit secara real time.

Henky menegaskan bahwa teknologi menjadi penggerak kunci dalam Special Plan. Dengan sistem digital, bank mampu mengakses data debitur secara lebih cepat dan akurat. “Kami mengandalkan platform digital untuk menilai kelayakan kredit, serta mengidentifikasi perubahan perilaku debitur yang bisa memengaruhi kualitas kredit,” katanya. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga memperkuat kehati-hatian dalam mengelola risiko.

Special Plan juga mencakup kolaborasi dengan lebih dari 50 mitra, termasuk fintech, multifinance, dan koperasi, guna memperluas jangkauan kredit UMKM. Model Bank-as-a-Service (BaaS) menjadi instrumen strategis untuk memastikan UMKM di daerah terpencil tetap bisa mendapatkan pendanaan. “Dengan kerja sama ini, kita mampu menciptakan akses kredit yang lebih merata sekaligus meminimalkan risiko kredit yang terlambat terdeteksi,” tambah Henky.

Komitmen untuk Pemulihan Ekonomi UMKM

Kemajuan dalam mengelola risiko di bawah Special Plan tidak hanya terbatas pada pengendalian NPL, tetapi juga melibatkan peningkatan layanan kepada debitur. Bank Sahabat Sampoerna terus berupaya memperkuat kemampuan UMKM untuk beradaptasi dengan perubahan ekonomi, baik melalui pelatihan finansial maupun bantuan teknis dalam pengelolaan kredit.

Sebagai bagian dari Special Plan, bank juga melakukan evaluasi berkala terhadap kinerja UMKM yang telah mendapatkan kredit. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi dini terhadap debitur yang membutuhkan pendampingan tambahan. “Kami percaya bahwa kualitas kredit UMKM adalah kunci untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Henky. Dengan Special Plan, Bank Sahabat Sampoerna optimistis mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko, terutama dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Perluasan akses kredit melalui Special Plan telah menunjukkan hasil positif, dengan sekitar 59% dari total portofolio kredit Rp 11 triliun dialokasikan ke sektor UMKM. Angka ini menunjukkan komitmen bank untuk tetap menjadi mitra utama UMKM dalam era digital. Henky menambahkan bahwa langkah ini akan terus dikembangkan guna menghadapi tantangan di masa depan.

Ikut berdiskusi