Special Plan: Bank Ramai-ramai Terbitkan Obligasi, Antisipasi Kompetisi Dana?
Special Plan: Bank Ramai-Ramai Terbitkan Obligasi, Strategi Pendanaan untuk Menghadapi Kompetisi Dana?
Special Plan: Bank Ramai-Ramai Terbitkan Obligasi, Strategi Pendanaan untuk Menghadapi Kompetisi Dana?
Special Plan – KONTAN.CO.ID – Jakarta. Dalam kondisi persaingan dana pihak ketiga (DPK) yang semakin sengit, sejumlah bank di Indonesia tengah gencar melakukan penerbitan obligasi sebagai strategi untuk mengamankan likuiditas dan memperkuat pendanaan jangka panjang. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari Special Plan yang dirancang untuk menjaga keseimbangan dalam sistem keuangan, terutama menghadapi tekanan dari perubahan dinamika pasar dan kebutuhan ekspansi bisnis.
Perubahan Pola Pendanaan
Dari data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sepanjang tahun ini telah tercatat sejumlah emisi obligasi dari enam institusi perbankan. Sebagian besar dari mereka sudah menyelesaikan proses pemasaran surat utang tersebut. Sebagai contoh, Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah menerbitkan tiga obligasi pada Maret 2026, sementara BPD Jawa Barat dan Banten (bjb) meluncurkan satu obligasi di April 2026. Bank Mandiri Taspen (Mantap) dan Panin Bank juga aktif dalam menghimpun dana dengan masing-masing menerbitkan dua dan satu obligasi, tergantung pada periode emisinya.
Dua bank lain yang sedang mempersiapkan penerbitan obligasi adalah Maybank Indonesia dan Bank Victoria. Maybank akan meluncurkan dua obligasi di Juli 2026, sementara Bank Victoria berencana menerbitkan satu obligasi di bulan yang sama. Dengan ini, Special Plan mulai terwujud dalam bentuk diversifikasi sumber pendanaan untuk memastikan stabilitas finansial perbankan.
Persaingan DPK dan Strategi Obligasi
Dalam analisis ekonomi makro, Staf Riset Ekonomi Makro BTN Myrdal Gunarto mengungkapkan bahwa peningkatan emisi obligasi berasal dari upaya bank untuk menanggulangi persaingan DPK yang ketat. “Rasio likuiditas perbankan semakin menyempit. Ketika likuiditas pasar mulai menipis, bank perlu beralih ke pendanaan wholesale, salah satunya melalui obligasi, agar bisa menghindari persaingan suku bunga simpanan yang terlalu tinggi di tingkat ritel,” kata Myrdal kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).
Dalam konteks Special Plan, penerbitan obligasi dianggap lebih efisien dibandingkan mengandalkan dana pihak ketiga yang rentan volatilitas. Myrdal menambahkan bahwa dana berjangka pendek yang dihimpun melalui DPK sering kali tidak cukup stabil untuk menutupi kebutuhan kredit berjangka panjang. Dengan obligasi, bank bisa memperoleh dana yang lebih fleksibel, sekaligus mengurangi risiko ketidakseimbangan neraca.
Menurut Direktur Utama BRI Hery Gunardi, strategi pendanaan melalui obligasi menjadi bagian penting dari Special Plan untuk memperkuat struktur finansial bank. “Penerbitan obligasi bertujuan memperkuat funding mix agar lebih seimbang dan stabil. Sifatnya sebagai pelengkap,” ujar Hery. Hal ini juga berlaku untuk Maybank Indonesia, yang dalam pernyataannya menegaskan bahwa obligasi menjadi pelengkap dalam strategi pendanaan jangka menengah dan panjang.
Analisis Risiko dan Dampak
Dalam proses Special Plan, emisi obligasi dinilai sebagai alat yang membantu bank mengamankan margin pendapatan. Steffano Ridwan, Presiden Direktur Maybank Indonesia, menjelaskan bahwa obligasi menawarkan keuntungan lebih besar dibandingkan dana pihak ketiga yang sering menggunakan skema special rate. “DPK tetap menjadi sumber pendanaan utama, sementara obligasi bertindak sebagai pelengkap untuk memastikan pendanaan jangka panjang yang stabil,” jelas Steffano.
Menurut Steffano, pendanaan melalui obligasi juga lebih ringan dibandingkan deposito, karena tidak menanggung beban Giro Wajib Minimum (GWM) yang diberlakukan oleh Bank Sentral. Ini memungkinkan bank untuk mengatur imbal hasil yang lebih stabil, terutama dalam menghadapi perubahan kondisi pasar. Selain itu, dana yang diperoleh melalui obligasi memiliki risiko penarikan yang lebih rendah dibandingkan dana simpanan, sehingga bisa digunakan secara lebih efektif dalam penyaluran kredit.
Stabilitas Neraca dan Pertumbuhan Aset
Secara keseluruhan, Special Plan dalam penerbitan obligasi diharapkan bisa meningkatkan kesehatan neraca perbankan. Dengan pendanaan yang lebih seimbang, bank memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap fluktuasi ekonomi. “Utamanya untuk mempercepat penyaluran kredit kepada nasabah pensiunan secara berkelanjutan,” tambah Panji Irawan, Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, yang menyoroti peran obligasi dalam mendukung pertumbuhan aset produktif.
Pendanaan melalui obligasi juga membantu bank dalam memenuhi target pertumbuhan bisnis. Dengan dana yang terkumpul mencapai Rp1,5 triliun dari emisi obligasi, Bank Mandiri Taspen berupaya memperkuat struktur pendanaan guna mendukung ekspansi. Meski DPK tetap menjadi sumber pendanaan utama, obligasi memainkan peran kritis dalam menjaga keseimbangan finansial dan memperluas jangkauan dana untuk proyek-proyek berjangka panjang yang menjadi bagian dari Special Plan.
Potensi Dampak pada Pasar Keuangan
Dari sisi pasar keuangan, penerbitan obligasi secara massal oleh sejumlah bank diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada dana pihak ketiga yang mulai berkurang. Dengan ini, Special Plan juga mencerminkan adaptasi perbankan terhadap kondisi likuiditas pasar yang terbatas. Meski beberapa bank telah menyelesaikan emisi obligasi, pasar masih menunggu respons dari bank-bank lain yang belum meluncurkan produk serupa.
Kontekstualisasi Special Plan ini juga mencakup penyesuaian skema pendanaan untuk menghadapi kompetisi dari produk dana lain seperti reksa dana dan tabungan berjangka. Dengan obligasi, bank bisa mengatur kembali distribusi dana dan meningkatkan kestabilan neraca. Selain itu, penggunaan obligasi dianggap sebagai cara untuk menjaga kualitas pendanaan, karena dana yang diperoleh melalui obligasi cenderung lebih terstruktur dibandingkan dana dari masyarakat yang bisa mengalami perubahan arah kecil.
